nhk

Am Fadly Juara AP250 ARRC 2019; 16 Sensor Ninja 250 Fi Manual Tech, Sayang Berpisah..!

AM Fadly Ninja 250 Fi
AM Fadly (108)

ManiakMotor – Kuat, kencang tapi punya durabilty yang bagus. Bugitulah Ninja 250 Fi AM Fadly saat menentukan juara AP250 ARRC 2019 di sirkuit Buriram, Thailand pada 29 November – 1 Desember. Padahal tampil di seri akhir bermodal pengurangan putaran mesin 1000 rpm sesuai aturan. Tapi berhasil juara race-1 dan race-2 nyaris juga juara, sayang menghindar dimasuki joki lain di tikungan akhir saat memimpin jadinya ke-6. Berarti pengorek mesin dan penyetelannya tingkat tinggi.

AM Fadly satu-satunya pembalap Indonesia juara salah satu kelas di ARRC 2019

Umumnya, motor harian diajak balapan akan lemah pada durability, kalau memilih kencangnya doang. Contoh saat race-2 AP250 di Buriram, pembalap Tahiland yang cewek itu kencang tapi berasap, nggak finish. “Semua telah diperhitungkan. Nggak ada pilihan misalnya cari motor aman agar finish. Atau pembalapnya suruh main aman. Tetap bermain seperti biasa sebagai ciri Manual Tech,” papar Ibnu Sambodo, bosnya Manual Tech KYT Kawasaki.

Menjalani hukuman pengurangan rpm yang sudah 1.000 didapat AM Fadly, tentu peras otak agar kemampuan Ninja 250 tetap melawan. Bayangkan, dari seri awal dimodali 14.750 rpm, di seri 7 atau akhir kemarin tinggal 13.750 rpm, karena dua kali dapat pengurangan rpm 500. toh pengurangan ini adalah aturan yang bagus agar balapan berjalan seimbang.

Pasukan Manua Tech Kawasaki sudah mempersiapkan juaranya AM Fadly

Dari situ saja pasti Manual Tech ambil langkah-langkah cemerlang di bidang suntik-suntikan tenagamotor bakar. Contoh saja, pasti final gir lebih berat agar seimbang di kecepatan tinggi dengan pengurangan rpm. Apalagi, sirkuit Buriram punya tipe sirkuit cepat.

Saat gir diberitin, pasti juga minta perbandingan kompresi juga naik, agar tareeekan ‘berisi’. Saat kompresi naik rpm juga korbannya, padahal sudah kena hukuman pengurangan putaran mesin. Pokoknya kalau diam saja, tarikan loyo bro dan nggak mungkin AM Fadly juga juara seperti terlihat Ninja-nya sama kuat dengan para pembalap yang malah motornya belum kena pengurangan putaran mesin.

Ibnu Sambodo. Pawang mesin 4T generasi awal Indonesia

Ini semua adalah butuh otak dari mekanik untuk menjaga cabut-cabut motor tapi aman dalam hal daya tahan, “Zaman sekarang itu sudah maju. Tenknologi tersedia semuanya. Nggak kayak dulu mengira-ngira. Saat ini sudah era injeksi. Semua bisa dikontrol dari teknologi ECU. Untuk performa dan durabilty, semua berdasarkan laporan sensor. Ada 16 sensor yang terpasang pada motor AM Fadly. Salah satunya paling penting sensor tempratur dan tekananan. Dari data sensor ini baru menentukan mapping,” cerita Novel Faisal yang di tim Manual Tech selalu pegang lap top.

Maksudnya angka sampai final gir, kompresi, waktu pengapian dan sebagainya dari data sensor dulu bro. Tapi, sayang ljuga, Manual Tech usai balapan di Thailand mengumumkan bahwa tahun ini, tahun terakhir  mereka dengan Kawasaki. Itu diumumkan di IG @manualtech_indonesia. Di situ dipaparkan Manual Tech berhasil membawa Kawasaki juara UB115 cc, juara UB130, juara SS600, dan terakhir juara AP250.

Novel. Tugasnya sensor

Wah tinggal satu belum nih, juara UB150… hehe. Termasuk Indonesia belum pernah juara di situ. Miolo

BACA JUGA

Final ARRC Thailand 2019: Richard Taroreh Jadi Juara Race-2 UB150, Makin Proliner Knalpotnya

ARRC Thailand; AM Fadly Juara AP250 2019 Dengan Ninja 250 Fi, Ruarr Biasa Timnya..!

Final ARRC Thailand; Juara UB150 2019 Malah Joki Filipina, Proliner Terangkat Di Race-2

Final ARRC Thailand 2019: AP250 Race-1 Ninja Fi AM Fadly Juara, Klasemen Makin Kokoh..!

 

 

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353