nhk

ARRC Sentul 2016: Balap All Japan Sepi, Jepang Serbu Asean, Termasuk Indonesia

arrc-sentul-2016-ap250

ManiakMotor – Setiap paddock ada orang Jepang, bukan satu dua, tapi banyak, bahkan jumlahnya seimbang dengan kulit dan wajah Melayu. Dari pembalap, mekanik dan kru pada tim masing-masing. Kecuali di kelas bebek mereka ndak punya tim di Asia Road Racing Championship (ARRC). Menguntungkan buat iklim balap Asean, termasuk Indonesia akan terjangkit oleh budaya racing mereka.

Lacak punya lacak ada sebabnya, para Jepang itu kudu melebarkan sayapnya ke luar Jepang. Balapan di negeri sendiri mulai kehilangan pasar. Bisa saja minat masyarakat Jepang menurun pada namanya hobi roda dua. “Contoh All Japan Championship (AJC) nggak sehebat dulu gaungnya. Makanya mereka ramai di ARRC,”  bisik Bambang Gunardi yang mantan pengurus Federation Internationale du Motorcycle (FIM) dan juri MotoGP itu saat ronde 4 ARRC di Sentul 7 Agustus 2016 lalu. Di sana, Bambang juga jadi juri.

Masih menurut Bambang, tentu berkaitan dengan bisnis. Saat AJC kurang dari segi pasar, para peserta yang rata-rata ‘menjual’ suku cadang kompetisi motor itu harus putar otak. Apalagi sudah berbaur dengan produsen motor yang pasarnya kamu tahu sendiri ada di mana? Saat sama arena promosi ARRC membesar dengan memutar event di banyak negara. Termasuk ke Indonesia dan Jepang.

Makanya, nongol deh nama-nama beken seperti di seri 4 di Sentul lalu. Dari pembalap, muncul nama Yukio Kagayama, Makoto Tamada, dan Sinya Nakano. Semua mantan joki MotoGP itu kini jadi instruktur tim balap di ARRC. Yang masih aktif balap, ada nama Yuki Takahashi, Takehiro Yamamoto, Tomoyoshi Koyama dan sebagainya. 

Dari sisi perkembangan balap di kawasan Asean memang menguntungkan. Sekalian pembalap Indonesia akan terbawa oleh skill mereka. Dan ada buktinya, belakangan joki-joki Indonesia keterampilannya makin dengan teknik dasarnya. Makanya para ATPM di Indonesia, ayo lebih ramai lagi ke ARRC. “Jujur saja, banyak teknik-teknik dasar bermotor SS600 ARRC saya dapati dari Katsuaki Fujiwara,” kata Yudhistira, pembalap Supersport 600 dari Kawasaki Manual Tech yang di timnya berjejer para Jepang. Macam-macam profesi para Jepang di tim asal Indonesia itu, dari mekanik sampai pembalap kelas dunia macam Fujiwara yang melatih Yudhistira.

Ron Hogg, bos TWMR promotor ARRC, mengakui eventnya berhasil menggaet para tim dan pemain papan atas Jepang. Kata Ron, sebelumnya para Jupun ini lebih banyak menyebarang ke Eropa, tapi sejak tahun ketiga ARRC singgah di Jepang, mereka jadi tertarik. “Itu bagus buat perkembangan balap di Asean dari segi riders dan teknologinya,” kata Ron dengan senyum keberhasilan.   

Bersama para Jepang itu muncul nama besar produsen komponen racing Negeri Matahari Terbit. Sebut saja, Harc-Pro, Beet dan Trick Star. Itu tadi, saat pasar AJC menurun, dicari peminat baru di luar Jepang. Mereka akan menjajah komponen after market sekalian di Indonesia loh. Urusan belakangan, soal perang harga. Maklumlah, Indonesia bukan pasar moge dan yang paling laku tentu dengan harga rupiah.

Beet duluan menyusup pasar Nusantara lewat Kawasaki Indonesia. Jangan lupa juga macam Sakura yang identik dengan knalpot yang menyatu dengan Yamaha Indonesia. Lalu Harc-Pro menginvasi lewat Astra Honda Racing Team. “Trick Star baru resmi masuk Indonesia tahun ini. Kami sudah siap dengan barang-barang after market untuk Yamaha R15, R25, Honda CBR dan Kawasaki Ninja,” ungkap Yopi Afnico dari bagian Sales and Marketing PT. Trick Star Indonesia. Trick Star ngetop pada kelas AP250 yang Kawasaki Ninja dua Jepang  sulit dikalahkan.

Tuh kan begitu. Tile 

BACA JUGA

Hasil ARRC Seri 4 Sentul, Indonesia 5 – 7 Agustus 2016

ARRC Sentul 2016 Race: Yamaha YZF-R25 Imanuel Pratna Top Performa, Ini Rahasianya

ARRC Sentul 2016 SAC :Jefri Tosema Lengkapi Prestasi Pembalap Indonesia

ARRC Sentul 2016 ADC : Febriansyah Hebat di Race 1, Melempam di Race 2

ARRC SENTUL 2016 RACE : Bahan Bakar Tranding Topic, 11 Mesin Jebol

BAGIKAN