nhk

Baca Ini Kalau Road Race Indonesia Mau Ramai Lagi (1), Regulasi Tak Tahu Diri..!

 

 

 

ManiakMotor –  Jujur saja, road race atau balap motor Indonesia kehilangan peserta alias sepi. Kalau peserta kurang, siapa promotor yang mau bikin???? Makanya pak, om, dek, nak dan yang seangkatan penulis ini boleh disebut bro, coba sadarlah, ayo kembali pada aturan alias regulasi yang bersahabat. Regulasi yang tahu kondisi, bukan regulasi tak tahu diri.  Termasuk pada kelas-kelas yang akan dibuka ke depan macam Bebek 150, Sport 150, dan sebagainya deh.

Regulasi balap motor Indonesia sudah tak menginjak bumi. Semuanya ditujukan untuk menuju professional, bukan hobi. Jadinya mahal bro. Hitung saja yang mau balap professional ada berapa pembalap dan berapa tim? Dan kamu ngaca dengan regulasi sekarang sudah ada nggak yang juara internasional dihasilkan oleh aturan tersebut?

Jangan jauh-jauh ngimpi juara di MotoGP dan turunannya, juara kelas puncak ARRC saja belum pernah sejak ARRC mampir di Indonesia 1993. Kelas puncak ARRC ini sudah berganti-ganti dimulai dari sport tune up 150 cc 2T, lalu GP125 yang speknya benar-benar racing, saat ini supersports 600. Oh iya, kalau di ARRC, bebek juara mulu setelah era 4T yang masih era 2T nggak pernah tuh.

Ini hanya opini penulis yang sudah kepala 3’ tahun berkecimpung dengan balap motor Indonesia. Penulis sudah pernah mengalami pasang surut road race. Pernah setahun ada 500 lebih event road race dan setiap pengprov punya kejurda. Setiap kali event minimum 350 starter. Saat ini, ampun dah..! Saat ini yang dimulai 2011 surut terus, nggak pasang-pasang. Makanya jangankan regulasi Indonesia yang taraf ekonominya kembang kempis, MotoGP yang diikuti tim kaliber dunia saja masih tahu diri. ECU seragam di MotoGP 2016 kan, agar grid di MotoGP penuh. Maksudnya ramai dan seimbang antara pabrikan dan privateer.

Aturan balap motor Indonesia semua kelasnya mahal. Antar kelas seeded, medium dan novice tipis-tipis bedanya memakan kangtaw. Peluang pembalap hobi dan pas-pasan tertutup. Harusnya yang mahal itu buat yang professional saja, missal di Kejurnas Balap Motor atau yang dulunya IndoPrix. Di bawah itu pangkas lebih murah sampai 70 persen. Tujuannya untuk menarik anino yang sudah hilang. Ramaikan dulu dengan aturan  terjangkau.

Tentu memberi peluang buat yang hobi umumnya privateer. Jangan takut, justru dari hobi ini akan berlaku hukum alam, selalu muncul bibit potensial. Karena mereka lahir dari kompetisi yang ramai, padat yang nggak pakai merayap  akan lahir benar-benar bibit. Jangan pula pakai batasan-batasan umur, preeeet… Ada sih batasan umur dengan kelas tersendiri.

Lebih mudahnya sampeyan lihat aturan teknik PON. Itu aturan kan kamu juga yang bikin. Motornya kan nggak neko-neko, tapi kan memikat juga lombanya. Kan cuma ganti knalpot dan ergonomic racing. Kenapa yang dimainkan saban minggu di seluruh Indonesia dibikin jadi mahal?  Kenapa nggak dibikin seperti aturan PON itu.

Apalagi dengan ekonomi sekarang yang lagi kasut, eh kisut, eh kusut… yang bisa biayai hanya pabrikan. Nah berapa tim mereka? Apalagi 2016 ini, jumlah tim disunat ATPM. Para sponsor pun menyunat anggarannya, bahkan ada yang sudah angkat tangan nggak mau bayar kontrak yang telah disepakati 2015. Apakah dengan hanya mereka itu, promotor mau bikin event? Dijawab sendiri oleh penulisnya deh, ogalah yauuuu. Karena itu, kejurda dan klub event menyerah. Jangankan itu, saat ekonomi belum terpuruk pun promotor motoprix dorong-dorongan.  

Ke depan masih akan ditambah dengan persoalan perubahan dari karbu ke injeksi. Ya silakan cari yang sederhana buat kelas pembibitan dan hobi. Bayangkan untuk motor biasa-biasa saja untuk kelas MP5 dan MP6 kudu sedia dana Rp 20 juta. Ini kelas regulasinya yang katanya paling murah. Macam mana MP3 dan MP4 yang sudah sangat tipis dengan MP1 dan MP2, apalagi yang disebut terakhir?

Memang start awal masih sanggup yang minimum Rp 60 juta untuk satu motor dari MP1 sampai MP4. Justru kelemahan regulasi tak tahu diri ini pada perawatan motornya. Di atas 60 persen dana tim dan pembalap  diserap maintenance, kian membengkak adanya riset. Ini kalau tidak hati-hati dibatasi soal injeksi yang elektroniknya tidak terbatas dana risetnya akan semakin mematikan road race. 

Sekian dulu semoga tulisannya berlanjut yang masih bicara regulasi. Tunggu…

Oleh Zainal Idris Miolo 

BACA JUGA

MotoPrix 2016: Semangat Bebek 150 Dengan Suzuki FU, Yamaha MX-King Dan Honda Sonic 150R, Wajib Injeksi?

MotoPrix 2016; New Jupiter Z1 Mlethiz, Kencang Modal Rp 600 Ribu!

ARRC 2016; AM Fadly Punya Rekor Termuda Ikut SS600 Di Asia

 

 

BAGIKAN