nhk

Balap Motor PON XVIII Riau, Kans Pembalap Ceking

 


ManiakMotor – Di balap motor diberi beban 5 kg saja, efeknya belum dihitung portal ini. Walah… Yang jelas, berpengaruh. Apalagi mesin standar seperti Jupiter Z dan MX yang jadi alat berlomba dalam cabang balap motor di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau.

Pembalap berbobot enteng yang punya kans.

 Tentu saja didukung keterampilan atau skill (yang ini nanti menyusul tulisannya).  Pokoknya bermain bobot di bawah 55 kg. Ceking juga bisa,  berarti kurus, juga ringan.  Kurus kalau tinggi hasilnya berat.  “Persoalan bobot itu pernah jadi kendala di PON XVII di Kaltim empat tahun lalu,” kata Irwan Ardiansyah yang jadi pelatih teknik sekaligus pelatih fisik  kontingen Jogja.

Makanya, Irwan tidak sebut jenis pelatihan fisik tapi bisa dideteksi. Ya, berdasarkan pengalaman Jogja di PON Kaltim sebelumnya.  Maka Hendriansyah, Sudarmono, Sigit PD dan Florianus Roy yang membela Jogjakarta digembleng menyusutkan berat badan.  Sayang, Irwan rada rahasia soal bobot pembalapnya, karena menyangkut strategi tim.

Melejitnya H Yudhistira dan Fitriansyah Kete pada PON XVII di Kaltim, saat itu bobot mereka enteng. Yudhistira hanya 49 kg bikin akselerasi Suzuki Smash yang aturan tkniknya mirip-mirip sekarang, lebih reaktif. Itu dulu, sekarang  Yudhistira pipinya ‘bengkak’, nggak mungkin lah yau masih 49 kg.

Sedang Kete yang baru ketahuan sekarang dua bulan sebelumnya telah berlatih di sirkuit di Samarinda itu. Dia kan tuan rumah. Wajar. Di PON kali ini Kete tetap  andalan Kaltim dan bobotnya tidak banyak berubah.

Yang mampu mengatasi keduanya hanya Hokky Krisdianto yang membela Jawa Tengah. Di PON saat itu, Hokky memang ceking hanya 53 kg dan didukung skill. Postur Hokky belum  berubah sampai saat ini, yang berubah hanya umurnya. “Lha, tak usah bicara wumur,” kata Hokky dengan logat Jawa medok. Dia tetap andalan Jateng bersama Agus Styawan, Teguh Nugroho dan Ardy Satya di PON Riau yang cabang motornya akan dipentas 11 September 2012.

Ini hitungan sederhana soal bobot. Anggap berat total Jupiter Z  80 kg. Mesin standar 10 dk pada 7.500 rpm. Dalam berat kosong alias tanpa joki, 1 dk hanya menghela 8 kg, maka dalam sekian detik akan mencapai putaran ideal ke-7500 rpm.

Bila diberi beban joki 51 kg, berarti 1 dk menghela 13,1 kg. Rpm ideal menuju 7.500, jelas tidak secepat dalam berat kosong. Apalagi bobot joki 57 kg alias  bertambah  6 kg maka  1 dk dibebani 13,7 kg. Pasti putaran mesin akan semakin melambat mencapai linier.  

Itu saja bedanya antara joki enteng dan berat. Seting gir ringan buat joki lebih berat boleh, tetapi akan kalah di puncak kecepatan (top speed).  “Makanya Rafid Topan, Rey Ratukore, M.Nurgianto dan Dwi Satria diprogram harus di bawah 55 kg,” jawab Gandung Darmoko, pelatih fisik DKI yang sehari-harinya sebagai instruktur IMI Racing Academy Motocross pada empat pembalap DKI itu.

Katanya sih di DKI ada yang beratnya cuma 50 kg. Harus diwaspadai tuh. Adit




BERITA TERKAIT:

Kelas Standar Showroom Di Balap Motor PON XVIII

Sadikin Aksa; “Tidak Ada Single Tyre Di PON XVIII..!!!!!!”

Jagoan Balap Motor PON Masih Ikut ARRC Di Jepang

Simulasi Kontingn PON DKI Di Kemayoran

Skema Sirkuit Balap Motor PON Di Riau

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353