nhk

Drag Bike 2014, Catatan Bebek 200, Mentok 7,3 detik, Masalah Sensor Lampu?

 

ManiakMotor – Persaingan bebek 200 sepanjang 2014 mutlak milik DOHC alias Double Over Head Camshaft. Berbeda dengan tahun lalu ada perlawanan SOHC yang diwakiili Jupiter Z Pele korekan M. Arief Sigit Wibowo akrab disapa Pele. Di final TPM Senayan 2013, bersama Hendra Kecil (Magelang), Jupie yang memaksimalkan efisiensi gas bakar sampai mentok itu sukses membungkam DOHC tanpa ampun.

Tapi  2014 ini, Jupie berkelir merah rada oranye itu tenggelam tanpa ampun pula. Tapi memang sih, belum minta ampun. Toh kelas  ‘FFA’ bebek super ini tetap dinamis dengan diwarnai sensor lampu dikunci 1 titik. Mencuat teknologi DOHC yang diwakili oleh FU Conk’s, FU Solo, FU Cak Moed, dan Raider Mlethiz. FU Conk’s karya Fauzan Conk mekanik asal Malang Selatan, Jatim paling dominan. Beberapa karyanya juga menyebar ke beberapa tim, salah satunya di Tomo Speed Shoop (TSS).

Persaingan kelas ini sempat memanas dengan hadirnya Honda Sonic 200 milik tim Vincent Racing Gallery (Jakarta). Muncul kali pertama di TPM Seri 1, Senayan, Jakarta, Sonic ini diklaim karya mekanik Thailand. Tapi sayang, kala itu urung dapat catatan fantastis lantaran joki ‘demam panggung’ dengan sensor 1 titik. Baru dah, di TDR seri 1 Tegal (Juni), Jateng Sonic 200 dengan Fandi Pendol itu sukses bikin rekor 7.372 detik juga dengan sensor 1 titik.

Wow, kira-kira saja untuk sensor model begitu dengan asumsi bisa potong 0,1-0,3 detik pada sensor lampu biasa. Adalah FU Conk yang memberikan perlawanan sengit kala itu, makanya tanding ulang keduanya paling ditungggu. Tapi entah kenapa, pertemuan keduanya menjadi hal sulit. Utamanya Sonic, dikabarkan akan hadir  tapi malah dikabarkan balik sudah terjual. Wkwkwk…

Overall, 2014 ini Bebek 200 mentok di 7,3 detik dengan sesnsor 1 titik, nggak dihitung sensor biasa. Bahkan, awalnya musim hingga paruh musim sudah konsisten diangka itu. Coba cek lagi,  http://maniakmotor.com/index.php/dragbike/6367-drag-bike-2014-bebek-200-susah-konsisten-7-2-7-3-detik-tanya-kenapa.

Alasan tidak konsistennya, jelas lintasan, “Seiring berjalannya riset semua bisa dapat 7,3 detik.  Tapi masalah belum seragamnya sensor lampu jadi kendala berikutnya. Tetap bersyukur, padahal awal tahun FU saya main di 7,6-7,5 detik,” kata Wawan Kristatro, kliker FU Solo yang belakangan justru jarang muncul bersama Dwi Batank (Semarang) macam awal munculnya FU itu dulu.

Kalo memang sensor lampu jadi pemicu, bisa dipastikan 2015 mendatang lebih tajam lagi. Optimis! Logika sederhananya, joki-joki makin paham dengan pergerakan sensor, itu diakui oleh Eko Chodox Sulistyo (Semarang).

Kabar baiknya juga, beberapa tim yang selama ini dominan di sport tune up mulai melirik peluang bebek 200. OP 27 (Jogja) salah satunya, muncul di event Wonosari (Jogja) pertengahan Desember lalu. Katanya sih, itu bagian dari rencana bergabungnya Hendra Kecil (Magelang) full balap di tim yang dikomandoi Taufik Omponk itu. Mantap! Ardel   

BACA JUGA

Drag Bike 2014 Pasuruan: Cebonk Pakai FU Conk, Kembali 7.4 Detik Di Bebek 200 cc!!

Drag Bike 2014: Macam Mana Nasib KTM250SX Pencatat Rekor FFA Indonesia 6.776 Detik?

Tangki Bahan Bakar Drag Bike; Model Depan, Jual Murah..!

Drag Bike 2014 Jelang Pasuruan: Cebonk Vs Chodox, Chodox Pamitan Dari Drag Bike!

 

 

 

 

   

BAGIKAN