nhk

Drag Bike 2014: Sensor 1 Titik Mutlak Pakai Reaction Time, Apa Itu?

 

ManiakMotor Diakui Ryan operator DN Timing System (DTS), secepatnya butuh waktu dua bulan buat menampilkan reaction time (RT) pada sensor dikunci 1 titik. DN Timing System sendiri salah satu operator lampu yang langganan event di Jateng dan Jogja. Doi pernah magang di Soklat Timing System (STS) milik Bambang Diro yang langganan di event Pertamina Enduro Drag Bike (PEDB).

Dua bulan dimaksud bisa jadi gambaran, memunculkan RT tak sesederhana yang dipikirkan oleh yang awam. Artinya, pengerjaannya memang ruwet, itu pun bila ada dana dan waktu tersedia. “Dikunci 1 titik? Ya, butuh waktu tuh,” kata Ryan yang saat dihubungi ada di event Kalimantan.

Apalagi, sensor lampu  hasil ‘olah  sendiri macam DTS dan STS. Bukan info lagi, kanyataannya di Indonesia ada timing system dengan model sensor lampu yang beli jadi juga ada yang hand made. Macam  sensor Race America yang pernah dipakai di event Surya 12 Drag Bike dan milik Bambang Kapaten di Surabaya adalah contoh yang beli jadi.

Pertanyaan seberapa akurat kah kedua sensor lampu itu? Sebagai pembanding, sensor lampu buatan sendiri kisaran Rp 80 jua-an. Sedang beli utuh di atas Rp. 100 juta-an. Toh, beli jadi dengan harga segitu, bisa memunculkan data seperti reaction time atau RT tadi, tapi bukan rukun tetangga, ET-60, elips time (ET) kecepatan motor saat menempuh dari start sampai finish atau speed dan waktu keseluruhan.

Bambang Kapten yang juga Ketua IMI Jawa Timur itu menuturkan, harusnya sensor lampu yang ideal seperti yang ia miliki.“Si situ ada total waktu tempuh adalah RT dan ditambah (ET). Pembalap yang punya reaction time minus, berarti dia jump start (JS). Untuk ET-60 adalah waktu tempuh setelah 60 meter,” jelas si Kapten yang tak pernah jadi kolonel, apakagi jendral dan Kaptennya entah dari manai? Yang jelas setiap kali dihbungi, hp-nya punya ring tone lagu Aku Seorang Kapiten. 

Bambang juga bilang pada 2013 lalu sensor lampu miliknya pernah dipakai di salah satu seri PEDB. Tapi saat itu menuai protes, lantaran beda dengan seri-seri sebelumnya. Toh, Jadi tahu, meski total waktu tempuh kalah. Tapi speed Jupiter-ku lebih unggul kala itu. Kelengkapan data seperti ini penting buat joki dan mekanik,” komentar M. Arief Sigit Wibowo alias Pele yang tahun ini seperti tenggelam dalam prestasi.

Reaction time sendiri adalah waktu tempuh untuk lepas dari daerah stagging atau  lamanya pembalap membuka gas hingga motor pertama kali bergerak. “Umumnya intervalnya antar lampu 0,4 detik. Mulai dari stage, kuning 1, 2, 3 lalu hijau. Kurang dari 0,4 detik, pasti jump start,” yakin Jeffry Joshua, operator timng syestem berlabel Race America seraya menyebut joki dengan reaction time minus itulah yang kena jump start.

Nah, bila data reaction time itu bisa dimunculkan, tak ada alasan pembalap mencurigai sensor lampu yang bekerja. Fair play! “Kita pun jadi lebih percaya diri, bahwa menang atau pun kalah atas skil sendiri. Bukan berarti dikalahkan oleh lampu,” sungut Hendra Kecil (Magelang).  

Lalu, bagaimana melatih reaction time yang good versi joki papan atas?Tunggu ulasan berikutnya ya.. Ardel

BACA JUGA

Pertamina Drag Bike 2014 Catatan Waktunya Kalah Dengan Event Lain, Pamornya Ke Mana????

Drag Bike 2014 2014 Masih Dari Gunungkidul: Pendol Vs Hendra Kecil, Sport TU 155 CC, 7.253 Detik!

Mobil Yong’s Motor Terbalik Di Krawang Usai Ikut Drag Bike Gunung Kidul, Jokinya Kritis???

Drag Bike 2014 Gunungkidul, Jogja; Bocel Kebut Touch Oranye, Silau Man 7.591 Detik, Per Kopling SYS!

 

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353