nhk

Drag Bike 2015; Salah Besar Tuh ATPM Setengah Hati Dengan Drag

 

ManiakMotor – Pabrikan ‘turun tangan’ di balap karapan. Ah, itu sih lagu lama yang belum terdengar merdu. Fals bro. ATPM tutup mata bahwa road race sebenarnya sudah kalah jauh merakyat dengan drag bike.   Gampang lihatnya. ATPM mati-matian mendongkrak bebek di arena road race, tapi apa yang terjadi? Tuh bebek penjualannya tinggal 20 persen dari total jualan motor di Indonesia. Asli itu. Lalu lihat motor harian, yang ditiru saat ini justru tampilan drag bike, bukan road race.

Awal tahun ini, kembali kabar itu diembuskan lewat H. Rio Teguh Pribadi. Doi komandan Pengprov IMI Jabar, juga pemilik tim papan atas Anker Sport IRC GM TK Racing Harriot’s. Sebelumnya, portal ini terima selentingan bahwa tim asal Bandung, Jabar itu akan didukung salah satu pabrikan.

Menyoal itu, Rio belum memberikan konfirmasi resmi, ”Potensi drag bike saat ini sangat meningkat. Event rutin digulir setiap minggu dan penonton menyemut,” kata io.  “Tapi pabrikan punya penilaian lain. Kata pabrikan, drag  bike masih dianggap bahaya,” ucap  Rio sembari senyum banyak arti.

Bahaya yang dimaksud bukan high risk, tapi ada sisi macam tampilan terondol, rangka dipotong, dan ban kecil. Toh, high risk yang dimaksud, semua cabang balap motor pun begitu. Jangan mau balap, kalau takut risiko. Mungkin pabrikan belum mempelajari, bahwa ban yang digunakan sangat ngegrip, tak kalah grip dengan ban road race. Bentuknya kotak kecil, lantaran memang diperuntukan untuk trek lurus yang motornya tegak terus dari start sampai finish, tidak menikung-nikung. Yang jelas itu alasan ‘orang penting’ pabrikan pada Rio.

Saat ini  fenomena beberapa tim papan atas pilih off, lantaran lagi-lagi soal dana. “Jangankan pabrikan, beberapa sponsor pun stop. Budget sekali event bisa Rp 30-40 juta. Berat tanpa dukungan sponsor,” kata salah satu pemilik tim papan atas yang memastikan berhenti  tahun ini. “Duit segitu sama dengan tim road race yang disokong ATPM. Kita masih pakai dana sendiri dan tetap saja pakai merek motor tertentu,” lanjutnya.

Menurut Rio, kondisi ini pernah dialami road race awal 90-an yang tampilan motornya ta karuan.  Seiring itu, road race bisa mengikuti arah kebijakan pabrikan seperti tampilan motor yang utuh sesuai aslinya. Makanya,  road race bisa lebih hidup dengan nilai kontrak menjanjikan. Faktanya, ada pembalap yang dikontrak hingga Rp 400-500 juta.

Lantas apa solusinya? “Kuncinya ada pada regulasi. Tak harus seperti jok standart macam sebelumnya. Bisa dari tinjauan tampilan (baca: bodi). Ada semacam homologasi soal ini, misal untuk Beat (matik) dibuat yang lebih ‘berbentuk’ Beat itu sendiri,” tutup Rio yang optimis pabrikan bisa support dengan ide itu.

Kalau portal ini bilang, seharusnya untuk PON ke depan, malah drag bike yang lebih masuk akal dipertandingkan di situ. Setiap daerah punya pembalapnya. Paling tidak diambil dari pebali, hehe. Ardel      

BACA JUGA

Drag Bike 2015: Penampakan Ninja FFA Potter, Tantang SE 2T KTM250SX Dan GazGaz

Drag Bike 2015 Magelang; Bebek 4t TU 130, Samodro Pitik Vs V-Reinz, Arjuna Lakonnya!

Drag Bike: Misterius SJP 33 Conk’s, Pasang Target Juara Umum 2015..!

Drag Bike 2015 Lumajang Jatim: Tijil Gagal 7 Detik Bersih Di Bebek 200, Gara-Gara Ban

Drag Bike 2015 Magelang; ‘Pukulan SOHC’ Awal Tahun, Bebek 200!

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353