nhk

Drag Bike 2015 Seri 3 AHRS Bali; Ninja TU Pengapian Standart Vs Racing, Pencetak 6,9 Detik!

ManiakMotor – Banyaklah epek sistem pengapian pada motor korek balap. Jenis pengapian yang dipilih, mekanik punya pertimbangan pada karakter power motor dan gaya balap joki. Katanya, pengapian SE yang pali mudah untuk 2-tak. Saat ini yang mudah ditemui  milik Yamaha YZ125 dan  85, keduanya dengan instan menaikan rpm sampai tinggi dan enteng. Bisa ditebak, unggul pada putaran atas.

Sebaliknya, pengapian standart justru punya keunggulan pada torsi awal Tentu ini bukan hal baru, tapi kembali diperbincangkan jelang AHRS Indonesia Drag Championship (AIDC) seri 3 di lintasan Serangan, Denpasar, Bali pada 4 – 5 Juli 2015. Utamanya di Sport 2T TU 155 cc alias Ninja TU. Ini salah satu kelas utama di event garapan Erdeve Indonesia Racing Organizer (EIRO) itu. Bukan semata lantaran dihitung poin, tapi menjanjikan cetak catatan waktu fantastis. Makin seru, beberapa Ninja TU pencetak 6,9 detik dipastikan hadir.

Begitu yang dikonfirmasi AB Bendol (ABRT), Yuda Sanjaya (K-Ijo TYB TK Racing), Aan (OP 27), dan Potter (OTD Racing). Mereka adalah kliker papan atas yang namanya meroket seiring dengan torehan prestasinya. Terkini di event Semarang (27/6) AB Bendol ‘pecah telur’ dengan 6,9 detik. Di saat yang sama Potter tanpa ampun di Pantai Depok, Jogja, podium 1,2,3 disikat bersama trio joki Ari Madun (Jogja), Muslih Wuri (Jogja) dan Yogie Keycot (Caruban).

Hasil positif itu bekal Bendol dan Potter kali ini, “Memang tak bawa Ninja TU ‘Army’, tapi dengan spek persis,tetap optimis,” yakin Bendol yang pakai pengapian satu set YZ 85 bukan YZ 125. Katanya sih, lebih karena cari rpm yang lebih cepat lagi.

“Siapkan dua tipe pengapian sekaligus, standart dan racing. Karakter jokinya memang beda. Racing lebih gampang handlingnya dan nggak liar. Standart punya keunggulan torsi yang kuat, harga lebih irit, rasio juga awet. Standart harganya kisaran Rp 1,5-2 juta, racing bisa Rp 5-6 juta,” urai Potter yang diangguki Bendol.

Bisa begitu, Bendol mengkklaim sebelum mekanik lain pakai pengapian standart di Ninja TU, doi sudah pakai duluan. Pastinya, hasilnya pun menjanjikan. Hanya ada penyesuaian di masing-masing pilihan tadi seperti lubang buang, kompresi dan rasio. ”Ambil contoh kalo standart exhauts  29 mm dan lebar 40 mm. Tapi kalo racing lubang buang bisa lebih dalam dan lebar, 28,5 mm dan 42 mm,” timpal Aan alias Andoex yang dominan di event Tegal , tapi bertekuk lutut di Pantai Depok  lalu. Wkwkwk..

So, pengapian mana yang unggul, standart vs racing? Jelasnya bukan sekedar itu, tapi ini gengsi dan harga diri joki. Nilai jual mereka jadi pertaruhan di kelas ini. Panas! Oke, untuk info pendaftaran masih di pendaftaran,silahkan 08562893336 atau pin BB 23AF50D3. Ardel

BACA JUGA

Dragbike 2015 Jelang AHRS Bali: FU Solo Vs Conk’s Vs CMT vs MBKW di Bebek 200!!

Drag Bike 2015 Jelang AHRS Bali (seri3); Bebek 130, 29 dk Vs 27,3 Dk, Karbu UMA Racing!

Drag Bike 2015 Jogja: Bebek 200, Disikat FU Solo Terbaru, Masih 7,6 Detik (Keycot)

Dragbike 2015 Kejurnas Bali: Bebek 200 FU CMT Knalpot R9 Juaranya, Mantab !!

BAGIKAN