nhk

Drag Bike 2015 Temanggung; Dominasi FU 200 Solo, PWK 38 Selenoid, Elektriknya Kerja Atau Tidak?

 

ManiakMotor – Wawan Kristarto, kliker FU Solo (Abakura Ditra Jaya) begitu ‘emosional’ dengan hasil bebek 4T 200 cc di The Battle Mizzle Hydra Drag Bike The Series 2015 (13/12). Maklum saja, podium 1 – 3 disikat FU miliknya yang bergelar FU Solo 200 itu. Podium bersama Dwi Batank (Semarang), Yogie Keycot (Caruban) dan Sukma (Salatiga).

Terlebih, beberapa kompetitor berat juga ambil bagian macam FU Samodro Pitik karya Benny Sastro Atmodjo (Sukoharjo).  Memang sih, kondisi trek yang licin diakui jadi pemicu catatan waktu terbaik hanya 7.568 detik. “Begitu faktanya, saat race belum basah. Tapi, tipikal lintasan memang licin dan sempit. Tak optimal, meskinya bisa 7,3 detik,” kata Wawan seraya sebut perubahan karburator dari PWK Airstrike 38 Sudco jadi PWK 38 Selenoid.

Katanya sih, power atasnya lebih ngisi karena dibantu aktifnya solenoid saat putaran atas. Selenoid akan membantu banyaknya udara lewat siraman partikel besol tambahan yang dibutuhkan. “Spuyernya saat itu minta 136 min-jet dan pilot-jet 60,” jelas Wawan yang bisa dihubungi di 081229843111.

Secara teknis diameter venturi  Airstrike dan Selenoid podo, Mas. Airstrike juga  sama-sama membantu pasokan bahan bakar melimpah.  Airstrike ada dua sirip di lubang venturi untuk by pass udara yang disedot oleh karbu. “Sehingga saat full throttle dan gasingan berada putaran atas, bensin selalu kaya. Tapi kalau Selenoid lebih presisi lagi,” jelas Wawan soal karbu PWK 38 Airstrike Sudco.

Pakai PWK 38 Selenoid diimbangi dengan silencer knalpot yang dibuat lebih pendek, agar gas buang lintasannya jadi singkat. Nah, pertanyaannya seloid tadi benar-benar difungsikan atau tidak? Maklum, reporter belum coba langsung.  “Atau sekadar spek PWK 38 selenoid  lebih enak diaplikasi di drag bike. Setahuku memang jarang difungsikan,” kata Onggo dari Omah Mburi Racing (Jogja) yang kondang di awal kemunculan quick shifter.

Apa pasal? Selalu terkendala dengan driver selonoidnya. Alat ini kan terkait dengan kerja elektronik, “CDI-nya harus dilengkapi dengan feature output solenoid driver. Kecuali pakai CDI bawaan karbu, kalo CDI lokal belum ada, tuh,” lanjut Onggo.

Nah! Gimana mas Wawan? Ya, kita tunggu penjelasan lebih lanjut! Hehe… Ardel

BACA JUGA

Drag Bike 2015: Ninja TU 155, Panggilannya Siti Badriah. Pegoyang Dandut, Dong

Jelang Pemilihan Ketua Umum PP IMI 2015-2019, Gawat..!! Pembalap Drag Nggak Tahu Calonnya

Drag Bike 2015 Temanggung, Super FFA, Ninja TU CBM D2T, 7,600 Detik?

Drag Bike 2016: Awas Ninja Rangka Std Mac23 No Limit, Karya Yudha Pakai Laher TK Racing

Drag Bike 2015 Temanggung: Duel Langka..! Eko Chodox Vs Dwi Batank Di Bebek 130 TU!

 

 

BAGIKAN