nhk

Dragbike Klaten, Setting Gir dan Roller CVT…!

ManiakMotorDragbike itu dinamis dan terus bergerak! Ya, kalo statis dan diam kapan sentuh finish.  Berarti settingan motor juga tak ada matinya, riset terus. Kalah hari ini, besok dilawan. Menang hari ini, hati-hati besok kalah.

Seperti di event Cargloss AHRS Helmet Drag Race Championship 2012 (CAHDRC) di sirkuit Jl. Veteran, Klaten, Minggu,  23 September 2012 yang jadi tempat bertemunya para dragbiker Jawa. Maklum di daerah lain, nggak ada balap trek lurus, yang ada balap bengkok-bengkok alias road race.

Salah setting, silakan ke laut aje. Itu hanya istilah bro, istilah orang yang kalah yang disuruh ke laut.  Trus bro? Misal penentuan perbandingan gigi,  pengaruhnya buanyak.  Sebab, hitungan gir depan-belakang  tidak ada di dalam ilmu dukun alias tebak-tebakan. Harus coba terus dan terus dicoba.

Agus ‘Klaten’ Budi Santosa, Arif ‘Pele’ Wibowo dan M. Deni Fauzan adalah, mekanik  yang mampu bicara di event garapan FOBM Klaten ini.  Kecakapan mereka menyetel komposisi gir penentu joki juara. “Gir di drag bike kelihatannya sepele, karena hanya lurus-lurus saja. Justru, dengan sesama motor sangat dekat waktunya, ketelitian prbandingan gigi penentunya,” jelas ketiganya pada event yang diikuti 625 starter dan bukan 359 starter seperti pada berita sebelumnya. Makanya sampai malam…

Agus yang biasa di road race, coba ramu Yamaha Jupiter di  bebek 4tak 125 cc TuneUp. Hasilnya, Bowo Samsonet mampu podium kedua. Lalu, Mio dikilik Pele dengan joki Eko Chodox podium pertama matik s/d 200 cc. Mio racikan Deni yang dipacu Saiful Cibief sakses di  Matik FFA s/d 350 cc dengan  waktu 07.198 detik.  Wah, jokinya yang top tuh…

Power mesin yang diracik sempurna juga harus mampu di transfer sempurna ke roda.  Itu gir yang pegang peranan. Iya dong, namanya juga final gear. “Faktor yang kudu diperhatikan antara lain, rasio pada girboks, bobot pembalap, lintasan, dan jarak sumbu roda,” sebut  Agus yang  memberi  14/35 pada Jupiter dibetot si Bowo.

Itu ada penjelasannya pada faktor-faktor tadi. Bobot pembalap dan katakan tidak pada korupsi, eh, salah coy.  Contoh, bobot ideal Dwi Batank 35 Kg, ketemu 14/35. Tapi ingat, itu sudah satu hitungan dari susunan rasio.  Jokinya lebih berat lagi atau jadi 38 kg,  maka diubah jadi 14/36.

Lalu jarak sumbu roda, bila lebih pendek 5 cm, maka gir bisa turun (berat) dua mata untuk belakang. Kan semakin pendek sumbu roda, motor gampang oleng-oleng. Makanya diakali pada gasingan awal roda belakang yang diperlambat.  Memberatkan gir itu sama dengan memperlambat putaran awal roda, pak!

Khusus matik bukan jumlah mata gir. Ya, iyalah, mana ada gir di situ bro? Dasar tuh reporter! Tapi pada berat (gram) roller CVT.  Tentukan roller berdasarkan karakter mesin setelah diboreup. Enak pada tarikan atas atau bawah? Jika enak di putaran bawah maka pakai yang 9 gram. Berarti memaksimalkan atasnya, karena bawahnya sudah enak. Sedangkan top speednya yang mantap, silakan pakai 7 gram yang lebih enteng.

Ini seperti setting karbu yang minta pasokan bahan bakar,” sambung  Pele seraya menyebut roller spek racing lebih disarankan lantaran kualitasnya. Nah, ukuran 7 gram atau 9 gram tadi, coba-coba diracik sendiri alias dites, dites, dan dites lagi sampai dapat.

Sebab dengan uji coba, dana makin terkuras, eh, sorry,  eh, benar. Kan itu yang disebut dinamis di awal cerita tadi. Riset, masbrow… Ardel

BERITA TERKAIT:

Hasil DragBike Klaten, 23 September 2012

Dragbike Klaten, 359 Starter, 24 Race, Sampai Malam

Modifikasi Yamaha RX-Z Drag Bike, Dapat 7,395 Detik

Modifikasi Ninja Drag Eko Chodox, Piston KDX 66 Mm

Dragbike Senayan FFA, Chodox Pecahkan Rekor Jadi 6,971 Detik

 

BAGIKAN