nhk

Final ARRC Qatar, Indonesia Hanya Jagoan Bebek

 

 

ManiakMotor – Berhasilnya pembalap harus didukung tim. Maka gagalnya pembalap, kesalahan tidak melulu pada joki, ya juga tim dong. Di sirkuit pembalap memang bermain individu. Tetapi keberhasilannya adalah kinerja tim. Kecuali itu pembalap memang sudah mentok alias stagnan keterampilannya.

Dalam seri 6 atau penutup PETRONAS Asia Road Racing Championship  2012 (ARRC) yang berlangsung 22 – 24 November 2012 di sirkuit Losail, Qatar, Indonesia hanya jaya di underbone 115 cc. Karena secara tim,  balap bebek Indonesia mapan. Saking mapannya Hadi Wijaya (Yamaha Tunggal Jaya) sudah juara duluan sebelum di Losail. “Bebek itu mapan dari teknologi dan kompetisi di dalam negeri yang padat. Hasilnya, pembalapnya lebih nyaman melawan siapa saja,”  jelas Eddy Saputra. 

Saputra adalah pemilik Yamaha Yamalube ASH yang ikut di supersports 600 cc ARRC. Dia menurunkan Sudarmono, namun di dua seri ini cideranya belum pulih. “Di supersports akan sulit menyamai bebek, karena kemapanan tim. Misalnya, tm 600 cc belum sanggup  mengikuti teknologi yang ujung-ujungnya dana yang butuh dukungan sponsor dan pabrikan. Di dalamnya adalah kompetisi yang banyak di dalam negeri,” tambah Saputra lagi.

Betul kata Ron Hogg, Direktur Two Wheels Motor Racing Sdn Bhd, penyelenggara ARRC, bahwa ARRC semakin prima. Lombanya diterima secara internasional. Tetapi dia juga harus tahu fakta pembalap supersports Indonesia? “Indonesia di supersports butuh proses. Tetapi proses harus ditunjang banyak aspek. Misalnya perbanyak jam terbang, konsistensi pabrik juga dibutuhkan,” kata Hogg seperti menenangkan tim supersports Indonesia.

Seperti diketahui dalam tiga seri belakangan, pembalap supersports 600 cc hasilnya selalu di luar lima besar. Puncaknya di Qatar, race-1 Doni Tata ke-7 dan Race-2 Dimas Ekky Pratama, juga ke-7. “Sebenarnya peran tim sangat dibutuhkan, Om.  Pembalap hanya menjalankan tugasnya. Dukungan teknologi dan pengembangan skill, harusnya dari program  tim,” jelas Dimas Ekky Pratama  pembalap supersports dari Yamaha Indoprom yang tahun depan cabut dari Yamaha. Di akhir klasemen Dimas berada di posisi lima atau tidak jauh yang dibikin para pendahulunya.  

Skill pelaga Indonesia sebenarnya sih tidak kalah-kalah amat. Buktinya di Asia Dream Cup (ADC). Lomba yang menggunakan motor seragam CBR250 ini, pembalap Indonesia sungguh merepotkan. Maksudnya bisa melawan. Padahal yang dilawan mantan juara All Japan Championship (AJC) seperti Hikari Okubo yang juara ADC 2012. Atau Hiroki Ono selain mantan juara AJC, saat ini dikontrak tim Italia bermain di Eropa. Sedang Joshua Hook mantan peringkat ke-5 Red Bull Academy pada 2011.

Tapi Denny Triyugo dan Iswandi Muis beberapa kali bisa podium ke satu di ADC. Saat balapan pun berada di rombongan depan. Karena ADC yang serinya bersamaan dengan ARRC itu, motornya dikelola satu manajemen. Tidak tergantung tim masing-masing. Seleuruh pembalap juga punya tutor yang disediakan ADC.

Mungkin beda hasilnya bila ADC diserahkan ke tim masing-masing. Gagalnya Denny masuk tiga besar ADC juga akibat manajemen tim. Otak Denny dipkasa dibagi dua. Selain berlaga di ADC dia juga repot menyetel underbone Astra Motor Racing di ARRC. “Ya, itu pelajaran ke depan. Semestinya dalam dua race ADC di Qatar Denny selalu di depan, namun saat finish dia kalah konsentrasi,” jelas Anggono Iriawan, manajer motorsport AHM.

Gara-gara tim kan. Untuk hasil lengkap silakan lihat RESULTS. Miolo   

BERITA TERKAIT

Hasil Semua Sesi ARRC Qatar, 22 – 24 November 2012

ARRC Qatar Race-2 ADC, Denny Terlempar Dari 3 Besar Klasemen Akhir

ARRC Qatar, Race-1 Underbone, Gupita Incar Kepala Kena Kaki

 

 

BAGIKAN