nhk

Final Indoclub 2019: Underbome 2T 125 Open, 125Z Hammer Pakai Pirelli Setan Mahal, Ternyata Mesinnya Kuat..!

Undebone 125Z Willy Hammer
Willy (no 5)

ManiakMotor- Heboh juga tuh ban Pirelli Diablo Corsa SBK, tampilannya slick tulen, botak tapi gripnya nggak ada habisnya. Katanya sih itu yang membuat Yamaha 125Z Willy Hammer (Denso Growing Rich) kuat pada dua race Underbone 2 Tak (Mix Engine) 125 cc Open di final Indoclub Championship Sentul Kecil, Bogor pada Minggu 8 Desember 2019. Ah jangan-jangan mesinnya yang kuat dengan peranti elektroniknya yang canggih???

Ban Pirelli ukuran 100/70-17 seharga Rp 2,5 jutaan sebiji itu, selalu siap terima tenaga dimuntahkan 125Z yang sudah korek habis, “Kebetulan motornya sudah diprepare dua hari sebelum balapan. Tapi di Jumat jatuh cukup keras. Bodi dan suspensi harus setting ulang. Pokoknya dengan ban semua tenaga yang disalurkan terhadap roda bisa ditampung dengan baik ke lintasan,” sebut Willy yang mengaku belum maksimal di race 1 maupun race 2.

Denso Growing Rich

Oooo ternyata oh ternyata sangat ohhh sekali. Maksudnya, Willy menggunakan dua ban Pirelli yang berbebeda pada setiap race-nya. Race-1 pakai se-se-se-tan (seperti yang ketakutan sebut setan), eh maksudnya ban setan dalam tanda petik, race-2 pakai ban Pirelli yang biasa untuk kejurnas.

“Karena kedua ban ini berbeda karakternya. Dari tekanan angin saja yang SBK minta 26 psi dan kejurnas seperti biasa 24 psi. Biasanya dengan perubahan ban, pengaruhnya juga ke suspensi,” tambah Willy yang justru dengan ban Pirelli kejurnas di race 2 catatannya lebih cepat, yakni 56.380 detik. Dengan ban se-se-se-tan dia hanya 56.698 detik.

Berarti ini bukan setan alas yang bikin cepat. Tapi memang korekan mesin dan peranti pendukungnya yang bikin laju tuh Yamaha 125Z dari Fast Tech Jogja. Otak lajunya alias mekanik alias insinyur dapur pacunya adalah Mitayantho alias Antho Fast Tech, “Di event ini sedikit berbeda settingannya dari balap di Subang. Lebih ke torsi dengan mengubah porting dengan pisau korek pada blok mesin,” sebut Antho yang tak menyebut model portingan, rahasia katanya.

Tapi bisa dipastikan diubah dari tinggi lubang buang yang nggak tinggi-tinggi amat dimakan pisau korek. Lebar lubang exhaustnya 42 mm dengan tinggi 25,8 mm. Lantas dituntaskan dengan desain leher knalpot yang agak ditekuk. Hasilnya tenaga terkirim duluan (torsi) dari 40.8 dk yang diklaim Antho pada power 125Z ini. Motor jadi lebih ‘diam’, lantaran bobot badan Willy yang kelihatannya mulai obesitas.

Asal tahu saja terdengar siem, karena elektronik pengapiannya dari CDI Vortex yang biasanya buat special engine YZ125. Wah canggih ini mah. Kalau zaman sekarang di Indonesia untuk ECU seperti aRacer, “Kami memprogram sendiri kurva  Vortex-nya. Agar pemetaannya sesuai mesin 125Z, bukan lagi YZ,” beber Antho yang siap memprogram Vortex di Indonesia bila ada yang punya dan tak sanggup memaksimalkan pada mesin 2T mereka.

Di event ini sebenarnya ada dua 12Z yang mirip-mirip spesifikasinya dari tim dan mekanik yang sama, walau pemetaan elektroniknya berbeda. Yakni yang ditunggangi Syahrul Amin. Sayang, kepala silindernya bermasalah usai QTT pada hari yang sama dengan race. Jadi nggak keburu dituntaskan. Itu pun race-1 Syahrul yang punya Amin masih sempat ke-3 dan race-2 nggak finish. Raider

BACA JUGA

Hasil Final Indoclub Championship Sentul Kecil 7 – 8 Desember 2019

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353