nhk

High Side Di MotoGP, Misteri yang Belum Terpecahkan Hingga Kini

High side MotoGP, High side balap motor
Lorenzo pernah mengalaminya di masa lalu (foto kiri) dan foto kanan terhadi di Jepang 2016

 

ManiakMotor – Dua high side  keras dialami dua pembalap Spanyol di sirkuit Motegi, Jepang di sesi latihan pada 14 dan 15 Oktober 2016. Yakni Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa. Lorenzo merasakannya di FP3, ia masih bisa melanjutkan kegiatannya di ronde 15 MotoGP 2016 tersebut. Tapi Pedrosa  diterbangkan ke Spanyol untuk dioperasi,  beberapa bagian tulangnya patah. Kenapa dan mengapa high side terjadi terpaksa bongkar ulang soal high side yang pernah dimuat portal ini 2012. Terbukti tema yang pernah dimuat itu belum ada obatnya nggak peduli dengan canggihnya suspensi dan elektronik mengakali kontrol traksi. Buktinya di babak latihan di Motegi itu. Silakan baca tulisan di bawah, itu tulisan lama yang nggak pernah usang.

Dani Pedrosa High Side di Motegi
Pedrosa usai high side di FP2 Motegi 2016

Sampai kini belum ada solusi mujarab untuk meredamnya di balap motor, termasuk di MotoGP. Korban high side yang masih boleh diingat adalah Mick Doohan yang sampai kakinya pakai sekrup di mana-mana. Lalu Wayne Rainey yang lumpuh, maka muncul punuk pada baju balap motor seperti saat ini. Atau paling dekat dialami Lorenzo dan Pedrosa di Jepang itu.

High side adalah rentetan sebuah proses yang diawali dengan kehilangan grip pada roda belakang saat menikung. Jika sliding itu bablas, ya motor langsung ndlosor. Yang bahaya jika sliding disusul dengan ban memperoleh grip mendadak. Tunggu. Belum selesai penjelasannya. Jangan nafsu bacanya…

Sepersekian detik setelah sliding,  ban belakang kembali mendapat grip tiba-tiba – karena kecepatan melambat. Ini dia efek fatal high side. Karena persis ketika ban belakang memperoleh grip kembali,  buritan motor seperti “dipegang” kuat oleh aspal.

Akibatnya, sokbreker belakang ambles penuh dan enggak sampai sekedipan mata, sokbreker melakukan kompresi memanjang dengan otomatis,  juga secara penuh dan kilat.

Istilah kompresi memanjang (rebound) dan memendek (bound) saat itu sudah tak ada artinya.  Perilaku sokbreker memang begitulah kodratnya. Dia akan selalu “ingin” kembali normal sesuai setting awal. Dan menjadi senjata pemantul nomor wahid, di saat sliding yang disusul dengan ban mendapat grip secara kuat.

Berbagai penelitian dan penemuan sokbreker canggih, belum ada yang mampu menjadi solusi kecelakaan ‘versi’ high side ini. Setelan rebound dan damper pada sokbreker masa kini, lebih pada peningkatan performance dan stabilitas. Tapi tetap belum mampu menghilangkan efek high side.

Pembalap yang duduk di jok, ya otomatis seperti dilemparkan ke udara oleh jok nya sendiri. Dia pun terbang, melayang mirip handuk tertiup angin. Gubrak! Masih untung bisa mendarat di gravel. Dibilang untung, karena gravel lebih”empuk” dibanding aspal.

Posisi pembalap jatuh akibat high side, jika bukan kedua kaki lebih dahulu atau punggung seperti Rainey. Kebanyakan, mata kaki-nya remuk redam, seperti yang dialami Michael Doohan puluhan tahun silam, yang cidera itu membuatnya pensiun dari balap.

Itu balapan motor  prototipe yang berarti canggih. Bagaimana dengan balap yang lain. Ah tetap balap, enak kok kebut-kebutan.  ManiakMotor

BAGIKAN