nhk

Honda Racing School Di Sentul Kecil

 


 

ManiakMotor – Honda Racing School (HRS) pernah tenar dengan datangnya Noboru Ueda sebagai pelatih. Faktanya, anak-anak Indonesia lulusan HRS kurang dapat ilmu lantaran Ueda pakai bahasa Batak. Maaf, salah, kalau itu namboru, hampir sama dengan Noboru yang berbahasa Jepang.

Karena itu, untuk pengenalan dasar lebih baik pakai pelatih Indonesia. Jelas, dia berbahasa Indonesia medok Jawa. Nih, macam Hokky Krisdianto dan Dedi Permadi sebagai instrukturnya. Satu dari Muntilan, satunya lagi dari Jogja.  Iya kan?  Itu lebih masuk akal seperti HRS yang sedang berlangsung  di Sentul Int’l Karting Circuit atau Sentul Kecil (SK), Bogor, Jawa Barat ini.

HRS angakatan ke-4 ini dimulai  dari 9 Juli dan berakhir  12 Juli 2012. Dari interaksi murid dan instruktur,   memang lebih tepat sama-sma Indonesia. Nanti ke jenjang berikutnya akan dicari pelatih Jepang yang bisa berbahasa Jawa, hehehe. “Program kali ini menjaring bakat sejak dini. Maka semua peserta di bawah 15 tahun, bahkan ada yang 8 tahun. Mereka datang dari seluruh Indonesia,”  kata Anggono Iriawan, Manager Safety Riding & Motorsport Departement PT Astra Honda Motor.

Ke-1 siswa itu rupanya diajari duet Hokky  dan Dedy dari nol. Kedua instruktur  yang aslinya membela Honda Tunas Jaya Federal Oil KYT itu, aktif memberi point training pada siswa.  “Mulai  posisi badan, teknik mengendara, titik pengereman, racing line sampai cara jatuh diajarkan,” ungkap Hokky sebagai pemegang rekor pencatat waktu tercepat di Sentul Kecil di bebek 4 tak .

Beberapa siswa telah mencicipi panasnya persaingan di balap bebek.  Misal Wawan Wello dan Yogi Yonex, keduanya aktif ikut motoprix di MP5 dan MP6  region Jawa, “Saya dapat banyak pengetahuan di sini, terutama masalah disiplin. Kalau tidak taat dapat sanksi seperti push-up,” ungkap Wawan yang aslinya dari Palu, Sulteng itu.

Program ini mempunyai bobot pelatihan fifty-fifty antara teori dan praktek. Siswa mempraktekan teori yang mereka dapat sebelumnya. “Penilaian sesungguhnya ada pada penyerapan siswa bersangkutan. Misalnya, hari pertama diberi teori dan hari ke-2 bisa dipraktekkan dan ditingkatkan, artinya si siswa punya progres,” tambah Anggono.

Paling mudah mendeteksinya adalah ketaatan pada disiplin. Lalu, masalah teknis di sirkuit yang pernah diajari. Yang ke-2 adalah catatan waktu. Itu yang jadi parameter berhasil tidaknya siswa. Tiap motor Honda Blade standar yang jadi alat praktek ini dipasangi transponder. 

Kelas siswa dibagi dua. Yakni, A dan B.  A yang telah mempunyai pengalaman di balap underbone, dan  B  yang belum punya pengalaman di balapan ini. “Secara keseluruhan bagus, bayangkan ada yang bisa memangkas waktu 7 detik dalam dua hari di sini,” ungkap Dedy Permadi, asistennya Hokky tadi.

Sakses deh. Adit

 

 

 

BAGIKAN