Vespanya jangan diklik, bisa tetanus!

ManiakMotor - Komunitas Vespa Gembel! Asli, itu gelar mereka. Benar-benar bikers, bukan biker alias biji kering. Tampilan pengendara dan Vespanya kumuh. Yang lihat, pasti punya konotasi macam-macam. Tapi itulah born to ride alias hidup di atas neraka. Wkwkwkwk… salah, hidup di atas roda!

Para ‘Vespa Sampah’ ini punya kelebihan. Tunggu dulu, Pak! Disebut sampah, lantaran di Vespa roda tiga mereka bergelantungan berbagai sampah. Dari daun kering, bekas, baju lusu, aneka botol sampai papan reklame. Sampah yang meriah, memang.

Lebihnya? Mereka, ya, gak ada malunya. Termasuk gak ada takutnya, no fear, coy. Terutama soal gaul rolling thunder. Semua pojok Indonesia pernah mereka jelajahi dengan dana apa adanya dan kondisi Vespa seadanya. “Duit dari mana. Nunggu banyak, kapan?” kata Wangun, anggota Vespa Gembel asal Pati Jateng.

Wagun hampir 18 bulan hidup di jalanan  Pulau Jawa dan Kalimantan. Dia pakai Vespa keluaran 1975. Tentu Vespanya  dimodif ala dia. Boro-boro kena cat. Malah dari tampilan beserta pemiliknya, bisa dihitung sudah berapa kali mandi. Hummmm… wangi, jack! Wanginya para brother hood.

Jawa, Bali-Lombok, hingga Sumatera, Kalimantan, sampai Papua diterobos. Begitu sebaliknya! Tapi sampai juga tujuan. “Banyak cara, paling sering bersua sesama rekan   pecinta Vespa di kota yang disinggahi. Mereka memiliki jiwa kekeluargaan,” tambah Ivan dari klub vespa Reggae bermarkas di Majalaya yang kulitnya angus kayak oli Vespanya.

Dari tampang Vespa mereka, tidak meyakinkan untuk pergi jauh. Tapi, tenang. Mereka punya jimat.  Para Scooterist ini, membawa berbagai onderdil langka. Dan, begitu kepepet, tuhspare part dilego. “Itu kalau udah bener-bener kosong,” tambah Jack Gimbal.Si Gimbal petualang asal Lampung. Saat diwawancara, dia berada di Bandung, Jawa Barat. Rambutnya yang gimbal, kian kiwir-kiwir lantaran sampho juga takut kena rambutnya. Terbalik!

Waduh! Bener-benerdeh! Nekad bangetya? “Makanya biar nggak kayak gitu, harus pinter-pinter berhemat. Termasuk, salah satunya saat oli kering. Beli baru nggak ada uang, terpaksa minta oli bekas di bengkel-bengkel,” sambung Wangun.

Tampilan kumuh, toh jauh dari aksi brutal seperti gank motor. Menurut mereka, tampang dan penampilan itu bentuk protes atau ‘jeritan rakyat’.  “Pokoknya, kekumuhan gambar miskinnya rakyat Indonesia. Kami hanya wakilnya,” jerit  Wangun, Jack Gimbal dan Ivan. Sayang, maksud dan tujuan tadi bisa salah persepsi. Akibat penampilan, beberapa kota di Indonesia menolak mereka. “Macam di Cianjur dan Solo. Kok aneh? Kita kan nggak ganggu?” tutup mereka.

Satu lagi, polisi juga ogah menilang. Mereja takut kena tetanus. Hiiiiii... KA-JP

 

 

 

 

 

 



Written by KA-JP