Matik Race Jogja, Di Jogja & Jateng Kurang Bergairah

 

ManiakMotor- Sebagai promotor lawas, Helmy Sungkar tak hanya pandai bicara teknis balap motor matik. Ia juga bisa bedah aspek bisnis dan masa depannya. Ia soroti fakta di gelaran KYT-Top 1-Indotire-BRT The Master Of Matic Race Champ 2012 yang brlangsung 16 September 2012 lalu di Yogyakarta. 

 

Starter di seri keempat ini lumayan naik dibandingkan gelaran serupa delapan belas bulan lalu. Itu tak lepas dari pertumbuhan matik yang sudah tembus 80% nasional.  Tapi, “Tetap saja penyumbang starter terbesar dari Jabar, DKI dan Banten,” papar Helmy yang identik bertopi koboi itu. 

Tuan rumah Jogja khususnya dan  Jawa Tengah umumnya, ke mana ya? Kok sepertinya masih adem bebek saja tuh. Dibilang adem alias dingin lantaran knalpot matik masih dianggap kurang ‘panas’. Disebut bebek karena balap motor transmisi otomatis itu dinilai kurang tantangan dibanding bebek, bukan ayem. 

Singkat kata, matik di Jogja dan Jateng belum popular sehingga kurang diminati. Kok bisa? “Dianggap belum ada penjenjangan jelas. Tak seperti balap bebek, ada MP3, MP4 lanjut MP1 dan MP 2. Terus Indoprix,  ARRC  mungkin juga ke Moto3. Jadi kurang tepat buat  Jogja yang dikenal penghasil pembalap profesional yang bidik penjenjangan,” nilai Nugroho Wijayanto dari Pengprov DIY.  Kok di PON XVIII Riau, Jogja nggak dapat medali ya, pak? 

Pria yang akrab disapa Anto itu, tidak menjawab PON, karena tidak ditanya kan bicara soal balap matik. Sambungnya, pabrikan masih setengah hati di balap matik. “Bisa begitu lantaran pabrikan melihat konsep matik sendiri yang memang bukan buat balap. Di masa awalnya bebek juga begitu, tapi pada perkembangannya riset  teknologi balap bebek lebih terbuka,” katanya tanpa menganalisa matik yang tanpa transmisi, memang matik.

Hendrik ‘Pathul’ Kristiawan dari tim Raden Agape Plastik Racing Team, Kebumen, Jateng,  punya penilaian sendiri.  “Sebenarnya di Jateng lumayan juga pembalap matik, rata-rata kalo ada Kejurda bisa 15-20 starter. Tapi, kalau di event ini kurang banyak, lebih karena kurang persiapan saja. Soalnya, ada beberapa kelas seperti FFA yang regulasinya beda dengan Jogja dan Jateng punya. Di Jateng, FFA maksimal 250 cc, disini 350 cc. Dipaksa ikut juga percuma,” jelas doi. 

Ari Bunarto alias Om Bun yang lumutan di ajang balap, ikut mengamati, balap matik di Jateng dan Jogja sepi.  “Ya pantas saja. Jangankan matik, wong bebek saja lesu di sini. Barangkali perlu dipikirkan ada kelas standar korek, ya siapa tahu bisa booming macam kelas standaran di drag bike,” saran Om Bun.

Kan biasanya, aturan bebas yang mahal makin diminati, Om. Kelas standar kan kelas rendahan, mungkin nggak laku di road race. Ardel   

BERITA TERKAIT:

Hasil Semua Sesi Matic Race Jogja, 15 - 16 September 2012

QTT Matic Race Jogja, Mandala Krida Punya Cerita

Fenomena Balap Motor Matic

Matic Race Subang, QTT Sampai Pagi

 



Written by Admin