nhk

IndoPrix 2013; Balapan Bebek Tak Ada Matinya, FIM Underbone 125 cc

 

ManiakMotor – Ada kelebihan IndoPrix (IP), tentu saja ada kurangnya. Itu disetarakan dengan event selevel di Asia Tenggara atau Asean yang menjadi wilayah balap bebek di dunia, IP adalah penghasil juara di level lebih tinggi. Itu salah satu lebihnya di event yang sudah berjalan tahun ke-7 dan 2013 memasuki seri ke-2 di sirkuit Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, 13 – 14 April 2013 ini.

IP pretisius, diikuti empat pabrikan Jepang, mana ada you bisa temukan di MotoPrix, misalnya. Mereka konsisten turun gelanggang sejak IP ada. Memang sih Honda baru masuk tiga tahun lalu dan jalan tahun ke-4. IP menjadi laboratorium buat ke-4-nya untuk pengembangan di pasar umum. “Proyek kami di IP tidak main-main. Kami serius di sini. Inilah wakil teknologi motor umum dan balap di Indonesia. Saat ini lagi musim injeksi,” bisik M Abidin yang mimimpin motorsport dan service Yamaha Indonesia. Nggak tahu dia berbisik ke siapa? 

Bahkan Suzuki yang di negara lain menghindar ikutan di event profesional, di IP mereka bela-belain. Mereka daulat pembalap Jepang-nya langsung, sekaligus mekaniknya, walau di seri pertama IP 2013 masih terseok. “Suzuki tidak pernah absen, apa pun persoalannya. Tahun ini pabrikan langsung ambil alih,” bilang  Felix Judianto, manajer pabrikan Suzuki. “Kawasaki memang tidak banyak menjual bebek. Tetapi IP simbol balap motor di Indonesia, harus ikut dong, kan image,”  timpal Ibnu Sambodo mewakili Kawasaki, karena orang Kawasaki-nya sendiri belum pada datang di Kenjeran, ah yang benar.

Yang krusial di tubuh IP yang tidak ada di level atasnya sekali pun adalah 125 cc. Bandingkan dengan Asia Road Racing Championship (ARRC). Sorry Pak Ron Hogg (bos ARRC), event sampeyan tetap oke.

Tapi, ARRC tidak mempertandingkan 125 cc. Semakin tinggi kapasitas, kian menarik untuk diikuti dan ditonton. “Racing identik dengan kecepatan. Kapasitas meningkat ya makin laju. IP nggak ada matinya, bro,” kata Bambang Gunardi dari IndoSpeed penyelenggara IP.

Yang bilang ‘nggak ada matinya bro’ hanya portal ini, bukan Pak BG singkatan dari Bambang Gunardi. Tapi bahasanya seperti itulah. Artinya, underbone 125 cc yang full racing satu-satunya di dunia. Makanya pembalap Jepang incar bebek sebagai awal pembibitan. Juga pembalap Malaysia ingin jajal kapasitas tersebut. Karena di negara meraka ta’da. Monggo saja, saat ini IP sedang diusahakan dihomologasi Federation Internationale de Motocyslime (FIM) menjadi kejuaran dunia underbone. Mantap, ya…

Nah, ini kelemahannya, tapi tidak signifikan.  Dibanding dengan kompetisi national championship di Malaysia, seri IP masih kurang dari segi jumlah. Permainan bebek tertinggi di negara tetangga yang dikenal dengan cub-prix tersebut lebih banyak. “Kami bisa mencapai 10 seri setahun. Sedang IP hanya lima seri,” kata Ron Hogg penyelenggara ARRC yang juga balap bebek tertinggi di Malaysia.

Ada lagi, IP harus hati-hati dengan perkembangan pasar umum saat ini. Bebek tidak seperti lima tahun lalu yang mendominasi pasar Indonesia. Kini beralih ke matik dan sport. “Makanya saat ini kami sedang memperkuat one make race sport seperti CB150R dan CBR250 di IRS Sentul. Khusus CB150R juga ada di HRC di luar Sentul. Ini antisipasi dari IndoPrix yang bebek. Pasar mulai berubah,” jelas Anggono Iriawan, manajer motorsport PT Astra Honda Motor.

Udah maju selangkah dia. Atau… Adit

BERITA TERKAIT:

Jelang IndoPrix Kenjeran 2013; IRC Siapkan 2.000 Ban, Antisipasi Suhu Pinggir Pantai

Jelang IndoPrix Kenjeran 2013; Yamaha Dan Honda, Hidup-Mati Adalah Injeksi

IndoPrix Sentul 2013; Mesin Dulu Kencang, Baru Elektronik Injeksinya

IndoPrix 2013; Lho, Pakai Pertamax Plus Malah Kencang, Pecahkan Rekor..!


BAGIKAN