nhk

IndoPrix 2013; Lho, Pakai Pertamax Plus Malah Kencang, Pecahkan Rekor..!

 

ManiakMotor – Bukan teori, tapi prakteknya mendapati sirkuit yang putarannya tinggi, kompresi pasti turun. Karena yang dikejar adalah putaran tersebut.  Kalau tidak salah, memang begitu rumus motor bakar. Untuk mencapai putaran atas, silakan kompresi diturunkan, tapi putaran bawah korbannya. Sebaliknya begitu. Tidak ada dua-duanya yang bisa didapat. Kalau nggak percaya, panggil deh Graham Bell… Ya dibel aja dia, pasti tulalit

Oktan diturunkan diikuti kompresi, rekor pecah di Sentul International Karting atau Sentul Kecil (SK), tempat seri pertama IP, 17 Maret 2013. Pakai Pertamax Plus (PP) mesinnya kencang. Sebabnya, Sentul Kecil itu walau kecil, mesinnya selalu berputar dari tengah ke atas, karena sifat sirkuitnya yang rolling speed.  “Di saat sama, final gir bisa ringan, hasilnya adalah motor yang enteng dan awet,” jelas Ahmad Jayadi  yang tahun ini timnya turun ke MotoPrix dan tahun lalu di IP. Lho..? “Kan saya sudah bilang, dengan kualitas avgas tidak menentu, akan lebih bagus pakai PP,” timpal Bambang Gunardi dari IndoSpeed, penyelanggara IP.

Pembanding yang sah harus sama-sama  versi karbu. Coba kembalikan memori sampeyan pada catatan  didapat Hokky Krisdianto 2010.  Ketika itu di SK, Hokky berlari 58.014 detik di IP1 (125 cc), itu dirontokkan empat motor sekaligus dalam superpole 2. Bahkan catatan itu dipersingkat mesin 110 cc. Eiit salah, yang 110 cc itu pakai teknologi injeksi. Jadi sulit dibikin sebagai pembanding. 

Aturan RON (Research Octane Number) 95 yang pakai PP pada IndoPrix 2013 sempat mendapat protes  dari kubu Yamaha Racing. Terutama yang meriset injeksi pada Yamaha Jupiter Z1. Tapi diseri perdana itu, justru Yamaha yang berhasil mempertajam  waktu tempuh dalam satu lap yang telah bertahan dua tahun.  Nah lihat hasil di bawah tulisan ini yang bisa pecahkan rekor.

Cerita oktan 95, Hawadis sudah khatam. Tiga tahun terakhir dia aktif di ARRC yang memakai aturan  sama. Basis mesin yang dipakai Thailand, Filipina dan Indonesia lahir dari tangan hitam manisnya. Katanya,  di sirkuit-sikuit besar tidak masalah, malah lebih kencang.  “Di SK juga begitu. Pebandingan penggunaan tenaga bawah cuma ada  dua tikungan dari 14 tikungan. Seharusnya dari dulu pakai PP dan kompresi rendah di sini,” kata Hawadis yang dibayar Yamaha Yamalube Nissin SMF TJM yang biasa pakai kompresi 13:1 ke atas, kemarin 12,9:1. Teman-temannya juga yang lain bermain 12 sekian banding 1. Pokoknya tidak seperti avgas 13 sekian banding 1.

Kompresi adalah tekanan atau pemapatan dalam ruang. Di motor bakar berhubungan dengan oktan. Kian besar angka oktan akan sulit terbakar, maka harus ‘dijepit’ sekuatnya agar bbm-nya buyar dan disamber geni. Efek ini membuat mesin meletup keras. Tetapi saking kerasnya dorongan, tidak akan mencapai putaran tinggi, dibanding bila kompresi diturunkan. Bisa saja sih akan tinggi, tapi mengorbankan waktu pengapian dan penggunaan material piston yang asoy geboy.

Karena kompresi tinggi terjadi penaikkan suhu yang mendadak setiap kali langkah kompresi. Bila putaran kian tinggi, ya muakin fanas, fanas, and fanas, coy. Huuuf… ditiuf, kan fuanas! “Kelemahan kompresi rendah, letupan keras melamah diikuti tenaga. Tetapi bila motor berhasil meluncur, putaran mesin bisa lebih tinggi, karena itu tadi; mesin tidak terlalu panas dan dorongan dari ruang bakar tidak tiba-tiba akibat pemampatan,” jelas Adriansyah, tunner Astra Racing Motor yang korekannya di IP125 ikut pecahakan rekor.

Pemikiran awal kompresi tinggi dan oktan tinggi bikin kecang motor, mekanik ogalah meriset ulang di SK. Biasa itu, sudah rutinitas alias kebiasaan. Lagian riset butuh dana. Untung keaadan yang memaksa alias aturan PP, eh cocoknya di SK malah oktan 95 dan kompresi yang mereka pakai saat ini. “PP juga jaminan mutu. Pakai avgas, tidak semua berkualitas,” ujar Kupret yang bukan Kutu Kupret. Nama aslinya Hartanto, tunner dari Honda Daya Daytona NHK IRC yang bikin kejutan dengan Honda Blade karburator dipacu Wahyu Widodo di IP 125 dan 110.

Yang menarik justru pendapat Ibnu Sambodo. Dia tunner flamboyan dari tim Kawasaki KYT IRC Rextor Manual Tech. “Menurut saya bukan semata-mata penggunaan PP, tapi ada juga peran riset pada bagian mesin sampai skill pembalapnya. Semua saling berhubungan, namun yang pasti, penggunaan PP sedikitnya membuat mesin lebih awet karena  tekanan pada ruang bakar yang lebih lemah. Di sisi lain SK juga mendukung, tapi belum tentu terjadi di Kenjeran,” bilang mekanik yang sering disapa Pakde ini.

Bagi pembalap, penggunaan PP bikin percaya diri.  “Dengan avgas memang power bawah lebih gala. Si elokan-belokan SK yang memerlukan trik, tenaga besar hanya membuat motor liar,” sebut Harlan Fadhillah dari tim Pertamina Enduro BRT Nissin yang juga memiliki catatan waktu d ibawah 58 detik di IP 125. Jupiter Z Harlan memiliki kompresi terendah yaitu 12,1:1. Nah, elmu yang dipakai sampai bisa begitu, maaf lagi dilacak, belum bisa disebut di sini.

Tapi portal ini bisa bilang, sebenarnya soal sugesti dan  latah. Teori dan praktek, pasti akan dikalahkan yang namanya sugesti tersebut. Beli bensol mahal dan susah, ya otomatis dia yang terbaik. Apalagi terasa menyentak-nyentak. Padahal dengan  tenaga lembut di putaran tinggi apalagi saat menikung, justru motor akan ‘jalan’, hasilnya catatan waktu lebih singkat. “Lho, rekor pecah itu karena kompon ban IRC. Buktinya yang juara pada pakai IRC semua!” seru Yanto Gondrong dari PT Gajah Tunggal Tbk yang ban IRC sebagai ban resmi IP, tapi setengah bercanda brosist.

Bukan karena helm kan. Hehehe. Adit

BERITA TERKAIT:

Hasil Semua Sesi IndoPrix 2013 Sentul, 16 – 17 Maret 2013

IndoPrix Sentul 2013; Mesin Dulu Kencang, Baru Elektronik Injeksinya

IndoPrix Sentul 2013; Sebenarnya Kawasaki Tidak Gentar Lawan Injeksi..!

IndoPrix Sentul 2013; Kayaba VS Ohlins

IndoPrix Sentul 2013, Race2 IP125, Injeksi Anti-Klimaks


PROSES REY RATUKORE MENOLONG HOKKY KRISDIANTO YANG TERJEPIT MOTOR

 

REKOR PECAH

BAGIKAN