nhk

IRS Sentul 2016 Kualifikasi 250: Geger Pelek 20-30 Juta, Hight Tech Vs Cost! Syahrul Amin Terdepan

IRS,Roadrace,sentul, seri 4, syahrul amin

ManiakMotor – Duo pebalap Yamaha Yamalube NHK IRC Nissin Bahtrera Racing Team, Syahrul Amin dan Wilman Hammer kuasi sesi kualifikasi event IRS seri 4 di sirkuit internasional Sentul, Cibionong, Bogor, Sabtu (8/10). Amin menorehkan waktu tercepat 1:43.676 detik, sedang rekannya kalah cepat 0.162 detik. Sukses mereka ini tak lepas dari pemakaian pelek aliminium yang jadi bumbu penyedap dalam persaingan di kelas 250 cc.

Road race, IRS, kualifikasi, syarul Amin
Syahrul Amin (kiri) dan Wilman Hammer, kuasi kualifikasi dengan pelek ringan

Yes, perang teknologi pelek di kelas bergengsi 250cc kian marak dengan aroma ‘kontroversi’ yang membolehkan motor pakai pelek ringan alias aluminium. Benar saja, 6 pembalap terdepan memang mengaplikasi pelek dengan harga dikisaran 20-30 juta/set. Wow! Sementara beberapa pembalap justru bertahan dengan pelek standart macam pada R25 pacuan Galang Hendra Pratama dan Rey Ratukore (Yamaha Racing Indonesia).

Dari investigasi terlacak ada tiga pelek high tech yang terpasang di beberapa motor pebalap antara lain, Galespeed, Marchesini dan OZ Racing. Pastinya, itu pelek sudah diaplikasi pada balapan macam MotoGP (Marchesini), Moto 2 (OZ Racing) dan ARRC (Galespeed). “Dengan selisih hampir 4 Kg-an, pasti ngaruh banget dengan performa. Sebanding dengan budget-lah,”sungut Rudianto, bos Yamaha Yamalube Nissin Tunggal Jaya.

IRS, Road Race, sentul, seri 4, pelek, ringan, OZracing
Tiga pelek aluminium, ramai dibicarakan

Bagi Rudi, regulasi sudah tak bersahabat dari sisi cost. “Tak harus semua-nya harus high tech, lebih baik pakai standart. Kalo memang mau main Asia tinggal ganti aja, nggak perlu setting lagi. Lama-lama makin banyak yang pensiun balap deh,”sarannya.

Mengaku baru seri ini pakai pelek almunium, itu pun lantaran ‘terprovokasi’. ”Awalnya kami pakai pelek standart. Tapi belakangan sejak ada beberapa tim pakai bahan high tech, tak ada pilihan bagi kami guna jaga kans,”ujar Rudi pada performa R25 yang dipacu oleh M. Zaki dan Nico Julian.

Tak bisa dipungkiri teknologi inilah yang antarkan duet Yamaha Yamalube NHK IRC Nisisn NGK Bahtera Racing Team mendominasi di seri 3 lalu. ”Pakai Pelek OZ Racing (Italia) selisih bobotnya kisaran 3,5 Kg. Ini adalah salah satu cara untuk memberikan experience kepada pembalap untuk skill up riding style mereka,”ujar Dedi Permadi, mentor tim Yamaha Bahtera.

Road race, IRS, seri 4, sentul, R25
Regulasi kontroversi

“Dalam pemilihan material harus yang sudah teruji, mengandung alloy dan proses heat treatment yang sempurna. Perubahan itu dapat mengurangi bobot motor, meningkatkan performance motor untuk top speed dan akselerasi, total improving juga untuk mekanisme suspensi, respon yang cepat untuk merubah arah motor,”analisa Wahyu Rusmayadi, manager Yamaha Racing Indonesia (YRI). Pastinya juga, penyesuian yang perlu dipikirkan antara lain sprocket dan tipe rantai. ”Ya, mau tidak mau harus ikut menyesuaikan biar kompetitif. Tapi sayang hari ini nggak keburu buat sesuaikan sprocket.  Seri final pasti sudah pakai,”ujar R. Fadhil (BKMS JDS NHK Racing Team).

“Ini regulasi perlu dipertanyakan. Kalo memang pelek boleh almunium, kenapa quick shifter justru nggak diperbolehkan. Piranti itu selain harga relative terjangkau juga bikin nyaman saat oper gigi. Regulator mestinya lebih paham soal teknologi bila memang adopsi regulasi,”protes Irwan Adriansyah (Yamaha Yamalube Nissin KYT FDR) seraya bilang bila R25-nya aplikasi pelek Galespeed.  Nah Lo! Ardel

 

BAGIKAN