nhk

Kejurnas Grasstrack Semarang, Deru Dalam Debu

 


ManiakMotor Biasa itu debu bertebaran di arena garuk tanah. Kalo ditambah deru, menjadi deru dalam debu. Iya, motor grasstrack seperti  di Kejurnas Grasstrack Region 2, Seri IV di sirkuit Lemahbang, Karangjati, Semarang, Jateng (30/6-1/7) lalu, larinya di dalam debu. ”Jalurnya pendek dan sempit, pada beberapa bagian membahayakan pembalap, debunya juga luar biasa. Sulit kelihatan treknya,”komentar Fachmi Mohammad bos tim  MPS Honda Banten KYT IRC AHRS (MHBKIA).

Pembalapnya jangan di belakang pak, itu malah makan debu. Harus di depan untuk mengasapi, eh, mendebu lawan. Ada gak kosa kata ‘mendebu’? Pokoknya begitu. ”Tangki air  telah bekerja 35 kali menghalau debu. Tetap saja sulit,” kata Edwar Indiel dari Indiel Organizer selaku penyelenggara gelaran yang dihadiri 238 starter dan 7.000 penonton yang terlibat dalam seru, deru dan debu. Saat penonton pulang ke rumah, debu doang didapat di rambut, baju dan di mulut.

Itu urusan debu. Namanya garuk tanah hanya ada dua kondisi, kalau bukan debu ya becek ketika hujan. Toh, Nyoman WB selaku ketua juri PP IMI sudah meninjau, bahwa sirkuit layak untuk kejurnas. “Debu itu biasa,” kata Nyoman. Tapi kalau debunya sudah luar biasa, itu tidak biasa pak.

Dalam debu, mekanik sibuk membersihkan hidung mereka dari upil debu. Sorry jack, salah ketik. Maksudnya membersihkan flter udara sembari menghalau dengan minyak khusus atau oli, agar debu tertahan di samping-samping rumah filter. Sedang trackernya, berusaha ke depan. Cuma itu cara, agar tidak makan debu

Kontrak tim harus ditukar dengan kerja keras, disiplin, dan semangat juang. Dengan modal itu, start sebisa mungkin sudah di depan, debu sudah ketinggalan,”semangat F. Chimon, ’penggaruk’ andalan Jabar yang bernaung di MHBKIA. Chimon membuktikan omongannya di kelas bebek Modifikasi 4 Tak dan 2 Tak Senior.

Meski tertinggal di klasemen, F. Chimon masih berpeluang pertahankan gelar juara nasional tahun lalu. Apalagi, Akbar Taufan dari Cargloss AHRS 86 Tech Swallow Tryink, Salatiga tak kalah heroik,”Cidera kaki yang dilami di event sebelumnya, belum sepenuhnya sembuh. Tapi kompetisi tak mengenal rasa sakit, termasuk soal debu. Kunci bermain debu, ya harus di depan. Terjebak di rombongan tengah saja, itu sudah sial,”ucap Akbar yang asli Salatiga yang di 2tak modifikasi bisa mengagalkan  F. Chimon ’kawinkan’ juara dengan modif 4tak.

Di kelas junior, Prabowo punya cerita lain soal debu. Pemuda asal Grobogan, Jateng ini sudah kosentrasi sejak awal seri. “Alhamdullilah poinnya semakin menjauh dengan kompetitor. Tinggal menjaga konsistensi di dua seri sisa dan grand final nanti,”optimis Prabowo yang bukan calon presiden itu. Berarti dia memberi debu pada lawannya. Dia sendiri aman dari deru dalam debu yang makin seru dalam seteru. Gitu, bro.

Yang jelas kejurnas seri IV Region 2 Jawa ini, bikin garuk tanah kian gairah. Tampilan paddock yang wah dibanding sebelumnya adalah indikasinya. Grasstrack bukan akar rumput lagi. Sudah profesional, bung! Harus berani investasi dan jangan setengah hati. Mulai membangun tim, memilih mekanik, sampai pembalap. Mereka dikontrak profesional. Dengan begitu, jadi lebih tertarik,”beber doi yang jujur akui pantau maniakmotor.com.

Wuihh... asyik kan pak. Ardel

BERITA TERKAIT:
Hasil Lomba Kejurns Grasstrack Semarang, 1 Juli 2012
Kejurnas Grasstrack Ciamis, Teknik Garuk Pasir
Kejurnas Grasstrack Ciamis, Di Lapangan Kuda Benaran
Grasstrack Banjarnegara, Seperti Toyip Pakai ‘P’
Sponsornya Honda, Pesertanya Yamaha
Grasstrack Banjarnegara, Ngajak Mimpi
Grasstrack Salatiga, Musimnya Telah Tiba
Grasstrack Salatiga, Kuda Lari vs Kuda Besi
Kejurnas Grasstrack Wonosobo, Trecker Pada Jumping
Hadiah Mio J Di Grasstrack Cianjur

 

 

BAGIKAN