nhk

Modifikasi Ninja 150 (Nganjuk): Lubang Buang 196 Derajat, CDI RC, 7,4 Detik!

 

 

 

ManiakMotor Bobot joki dan konsep korekan punya korelasi. Itu yang dibikin Yuda Sanjaya atau akrab disapa Kemoh, kliker OEI JFK AHRS K-Ijo GM asal Nganjuk, Jawa Timur. Jokinya superkecil otomatis enteng, bobotnya cuma 35 kg. Itu dia Alvan Cebonk. Mesin tak perlu jor-joran digali dengan pisau korek yang penting presisi tujuannya terhada tenaga yang pas dengan bobot.

Dasar Ninja ini turun di Sport 155 cc Rangka Standar. Tinggi lubang buang saja cuma dipatok  29 mm diukur dari bibir silinder. Makin banyak ngka pengukuran, lubang nggak gede-gede amat. Sebaliknya begitu, makin kecil angka pengukuran dari bibir silinder, kian gede lubang buangnya.

“Tinggi 29 mm bila diterjemahkan dalam derajat adalah 296o. Power masih enak dari putaran bawah,” jelas Kemoh.

Hubungannya dengan bobot joki enteng pada lubang itu, ya enteng. Namanya juga ringan semua motor yang dijoki Cebonk akan dintungkan, hehe. Eh, maksudnya, Cebok tak perlu meninggikan rpm di garis start apalagi dengan sensor stau titik. Tinggi lubang buang seperti ini torsinya lebih bagus, lantaran ada kaitan dengan kompresi yang bisa dapat lebih tinggi. Kan di 2-tak, angka tinggi lubang buang bagian dari angka rumus untuk langkah torak.

Bentuk lubang buangnya seperti telur. Ya nggak boleh disebut bulat, tapi lonjong. Ada juga yang bilang bulat lonjong. Kalau lonjong, ya lonjong saja, pak. Model ini sudah populer sejak manusia diperbolehkan mengorek lubang buang 2-tak. Itu ada kaitan dengan ring piston supaya tak nyangkut di bibir lubang buang.

Jangan buangnya doang yang diurus, nantinya lebih besar pasak dari pada tiang. Maksudnya, pengeluaran lebih banyak ketimbang masuk. Karena itu, tinggi transfer bila didial dapat durasinya 126o atau tingginya 42,5 mm. Seperti itulah porting-porting silinder yang membuat Cebonk melejit membawa motor dengan bobotnya. Best time Ninja ini 7.4 detik sekian-sekian.

Hitungan itu sesuai pertimbangan dengan karburator yang digunakan tetap standar, hanya direamer  2 mm. “Logikanya dengan bobot joki ringan mesin cepat dapat torsi. Peak-nya boleh diatur lebih tinggi dari knalpot. Nafasnya sudah urusan rasio dan final gir,” kata Kemoh yang aslinya wong Jogja sembari bilang sokbreker juga diutak-atik agar bisa menekan ban dapat traksi.

Selain itu, mnggunakan otak pengapian atau CDI konvesional milik Suzuki RC 100  yang bersistem AC atau arus bolak-balik (Alternating Current). Tanya kenapa? Lagi-lagi ini soal efektifitas. “Karakter CDI RC 100 itu lebih lembut. Lebih gampang dijinakkan. RPMnya 13.500. Kalau yang berkode 1454 begitu terasa torsinya, tak terlalu galak. Itu sesuai sasaran awal dijoki Cebonk,“ tambah Kemoh yang terus berusaha dapat 7,3 detik. Ardel

BACA JUGA

Modifikasi Honda Supra X125: Tampang DAn Parts Standar 16 Dk, Juara Cornering

Modifikasi Honda Supra X 125 Dragbike (Nganjuk): Dapat 8,413 detik Bebek TU 130 Cc

Modifikasi Suzuki FU Drag Bike (Yogyakarta): FU 155 Rangka Standar 8,4 Detik, Pemborong Piala

Modifikasi Jupiter Z Dragbike (Kediri), Rival 8,2 detik !

Modifikasi Yamaha R25; Maskot Club, Belum Ekstrem

 

DATA MODIFIKASI

Karbu           : Std reamer sampai 30 mm

Main-jet      : Rata-rata 155

Pilot-jet        : Rata-rata 60

Knalpot        : Custom dewek

CDI                : Suzuki RC

Rasio             : 13-24 (I), 18-26 (II), 13-25 (III),  seterusnnya standar

Final Gear    : 13-39 (201 meter).

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353