nhk

Modifikasi Satria FU 200 Drag Bike Pele: Kontroversi 7.1 Detik, Finishing Touch, Komponen Kawahara!

ManiakMotor – Modifikasi mesin, ya mesin balap memang selalu pada sentuhan akhir alias finishing touch. Di dalamnya kebiasaan mekanik. Apalagi untuk drag bike Bebek 200 andalannya Satri FU yang referensi korekannya telah banyak. “Kunciannya tetap sentuhan akhir pada efisiensi volumetric. Cari power yang pas untuk digunakan saat dinamis atau bergerak. Ini juga tak lepas dari riset komponen lewat dukungan Kawahara,” ujar Pele atau M. Arief Sigit Wibowo from Boyolali, Jateng.

Nama Pele ini kembali melejit setelah doski membuat mesin Jupiter Z yang dulu dukenal Jupie Pele untuk Bebek 200. Itu Jupie Pele kerap mempermalukan FU yang sudah DOHC. Belakangan dia meramu FU 200 dan baru lalu bikin kontroversi lagi, karena korekannya  FU 200 bikin rekor 7,165 detik. Itu melampui catatan sebelumnya yang 7.260 detik dari FU korekan Fauzan Chonk.

Efesiensi volumetrik adalah sanggupnya perbandingan antara volume udara yang masuk ke dalam silinder dengan volume langkah piston. Menurut teori udara yang masuk ke dalam silinder sama dengan volume langkahnya. Kenyataannya untuk dapat 80 persen saja boro-boro dari kapasitas silindernya.

Jarang, apalagi andalannya pisau korek dan bubut yang bukan cetak seperti mesin MotoGP. Padahal volumetrik ditentukan komponen, tekanan udara, suhu, panjang saluran, bentuk korekan saluran, sisa hasil pembakaran dari desain lubang buang sampai knalpot dan proses yang mendahuluinya. Saat ini oleh mekanik hanya diusahakan  campuran udara dan bahan bakar yang masuk ke silinder  mendekati. Kalau FU dibore 200 artinya didekatkan sampai 200 cc tuh gas bakar untuk diledakkan. 

FU 200 Pele yang fenomenal sekaligus kontroversi ini mengejar hal tersebut. “Untuk mencapai volumetric ini butuh ketelitian. Tentu juga dengan trial and error. Ada kaleee bijian piston, kem, head dan sebagainya yang dibikin berulang.  Ada yang gagal, setengah jadi dan belakangan sejak akhir 2015 ketemu. Ketemunya pada sentuhan akhir yang kudu teliti dari profile kem, ukuran porting dan sebagainya,” terang Pele yang timnya berbedera Pells Kawahara itu.

Untung saja ada dukungan Kawahara meramu material bersama cetakannya. Itu namanya riset. Bahasa kerennya research and development (R&D). Bahasa Indonesianya penelitian dan pengembangan. R&D satu jurus dengan trial and error. Ya awal-awalnya banyak error atau salah. “Kalau sudah ketemu begini, akan mudah bikin selanjutnya,” jamin Pele. Eiit… sengaja ukuran-ukurannya modifikasinya jarang disebut di sini, silakan lihat di DATA MODIFIKASI.   

Sekadar diketahui saja, untuk menemukan itu, Pele masuk gua dulu untuk bertapa, hehe. Salah bro. Maksudnya dia melakukannya sejak 2013. Dia baru mulai bicara, ya diakhir 2015 lalu. Dimulai dengan catatan 7.2 – 7.3 detik dari November sampai Desember 2015. “Bagaimanapun DOHC tetap unggul segalanya dibanding SOHC,” kata Pele soal doski beralih ke FU dan meninggalkan Jupie 200-nya. 

Baginya  DOHC alias double over head camshaft lebih mudah untuk dapat efisiensi volumetrik. Kana da dua noken-as atau camshaftnya, ada empat lubang di kepala silinder yang dua masuk dan dua buang. Sirkulasi bahan bakar isap dan dan lepas mendekati kapasitasnya.

Kapasitas silinder FU Pele ini 195 cc. Klep in berdiameter 27 mm bagian dari  konsep tadi. “Aplikasi piston Kawahara 72 mm. Untuk panjang langkash alias stroke tetap  standart (48.8 mm). Perubahan itu diikuti dengan peningkatan suplai gas bakar dengan penggantian diameter payung klep in yakni 27 mm. Kalo ada dua klep in, berarti total lubang masuk untuk gas bakar 54 mm,” urai Pele. 

Huff… demikian dulu ya ulasan sepak terjang FU pencetak rekor 7.1 detik di bebek 200 4T TU. Ardel,Rzk

BACA JUGA

Modifikasi Jupiter Z Pele Drag Bike, Mesin Cetak Ulang, Penantang DOHC FU

Drag Bike 2016: FU 200 Pele, Rekor 7,1 Detik, Pele Yakin 7,0 Detik Tahun Ini, Asli..!

Drag Bike Jelang 2016: Jupie Pele, Tapi Untuk Bebek 130, Klep Titanium

BAGIKAN