nhk

MotoGP 2014 & 2015: Tahun Penentuan Buat Valentino Rossi, Belajar Jadi Pembalap Baru

 

ManiakMotor – Biarpun lagi libur Natal dan Tahun Baru, Valentino Rossi terus bekerja. Ldah dan mulutnya yang terus bekerja agar selalu dapatkan publisitas. Itu  seperti harapan para sponsornya, sekaligus kesempatan The Doctor lancarkan perang urat syaraf menjelang musim 2015.

Rossi pancang target jurdun tahun 2015, kali ini lewat ‘pesan’ Natal dan Tahun Baru-pada autosport.com. Itu situs  lebih banyak kupas F1 dan reli dunia. Tahun 2014, kata The Doctor  sesuai target, di klasemen ia hanya kalah dari Marc Marquez. Maka target 2015 meningkat lagi seperti rencana serius sebagai kampiun. “Marc dan Jorge (Lorenzo) musuh yang paling sulit ditaklukkan. Nyatanya beberapa kali bisa kalahkan mereka. Dengan kerja keras dan sikit lagi meningkatkan M1, yakin dah bisa ikutan bersaing berebut gelar lagi,” tandasnya.

Rossi memaparkan yang sudah sering dipaparkan suksesnya 2014 terletak pada dua hal, yakni dirinya sendiri dan kinerja Silvano Galbusera selaku kepala mekanik baru. Ia kerja keras mengolah fisik karena sadar kalah umur dengan lawan. Tetap mencari teknik-teknik terbaru agar refleksnya tidak dimakan usia. Kekayaan gerak dipeliharanya dengan dirt track dan olahraga pada gym. Dua kalimat belakang analisa portal ini.

Saat sama Rossi juga kerja keras mempelajari teknologi motor. Cara balap sudah sangat berubah dibandingkan era jayanya dulu. “Saya pelajari semua detilnya. Sebab regulasi berubah, ban ganti, dan sistem elektronik semakin maju plus kompleks. Itu semua mengubah karakter motor dan jadi tantangan baru sebuah permainan.  Saya menikmati hasilnya lewat beberapa pertarungan sengit di lintasan,” jelas Rossifumi.

Keputusan mengganti Jeremy Burgess katanya langkah kontroversial dan berisiko. Keputusan  sulit, sama sulitnya dia mencari jodoh, walau pun sudah punya pacar si Linda. Maklum sudah belasan tahun bersama Burgess. Sekarang terbukti, langkahnya cerdas. “Cara kerja mekanik di MotoGP sekarang, banyak berubah dibandingkan zaman Jeremy. Saya harus dapat metode berbeda yang dimiliki  Silvano,” tegasnya soal Silvano yang sebelumnya berkecimpung di WSBK.

Ia tambahkan pada masa ini tak lagi pembalap menuntut yang diinginkan. Juga harus tunduk pada kemauan motor dan tuntutan data telemetri. Seluruh kinerja motor diatur komputer, bersinerji pada semua sektor. Pembalap tak boleh memaksakan diri jika sistem memang menuntut. “Memang mekanik menghimpun data dan masukan dari pembalap. Setelah itu mereka menyusun set-up dengan mempertimbangkan feeling dan riding style si pembalap, namun juga harus dicocokkan dengan data  telemetri,” tegasnya.

Dengan kata lain, Rossi bilang dirinya kini belajar dan banyak belajar lagi untuk langkah ke depan. “Betul kalau saya sudah 9 kali juara dunia, tapi itu hanyalah masa lalu. Lupakan itu karena tak ada gunanya sama sekali untuk masa kini,” ucap Rossi pada kesempatan terdahulu dan sudah pula dikupas portal ini.

Sepertinya sikap itu juga layak jadi inspirasi buat sampeyan semua. Teruslah belajar menambah elmu, antara lain dengan rajin baca di maniakmotor.com hehehe! Betul ora son!? Andro

BACA JUGA

MotoGP 2014: Suppo Tantang Pedrosa Yang Diam Saja, Buktikan Diri di 2015

MotoGP 2015: Pesan Natal 2014 Valentino Rossi, Racing Spirit..!

MotoGP: 4 Tahun Tenggelam, Rossi Lahir Kembali Sebagai Bintang 2014

MotoGP 2014: KTM Ikutan Serbu MotoGP, Sudah Bersiap Bareng Hofmann

 

 

 

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353