nhk

MotoGP 2017 Paruh Musim: Marquez Konsisten Point Kurang, Rossi-Vinales Membaik, JL-Iannone Jeblok

Vinales-Rossi, Peringkat, MotoGP

ManiakMotor – Setelah menjalankan paruh musim 2017,  selisih pengumpulan angka sementara sangat ketat. Terutama peringkat satu sampai lima. Artinya, Dorna berhasil meningkatkan suhu persaingan. Betul sekali, utamanya dari segi kuantitas karena sudah melahirkan lima pemenang, sedang tahun lalu hanya tiga pembalap.

Namun dari kualitas, justru merosot. Contoh, Marquez pemuncak klasemen dengan 129 angka, hanya memenangkan dua seri sedang 2016 tiga. Total angkanya pun terpaut jauh, tahun lalu mengantongi 170. Selain Baby Alien, Lorenzo dan Iannone pun merosot, tapi Rossi, Vinales dan Dovi justru tampil lebih baik.

Lorenzo dan Iannone belum beradaptasi maksimal sama motor

Mari kita bahas dari Marquez. Tahun ini, Honda melempar mesin Screamer diganti sama Big Bang. Ini bukan mesin baru dan sudah pernah dipakai di era Michael Doohan dan sukses. Tapi, dengan kelanjutan penyeragaman ECU dari Magnetti Marelli,dilarangannya sayap, adanya perubahan sasis dan datangnya berbagai ban baru ditambah permukaan lintasan berubah, motor pun jadi sasaran keluhan pembalap.

Seperti Marquez mengeluhkan adanya wheelie, stabilitas dan akselerasi. Namun, jadi terbantahkan dibandingkan sama rekannya, Pedrosa justru bisa menuai sekali kemenangan dari paceklik tahun lalu. Malah hampir dua di Amerika yang akhirnya diambil rekannya sendiri.

Ini perbandingan penampilan pembalap. Mulai dari peringkat, poin, kemenangan, dan podium

Begitu pun Yamaha, bingung bukan performa M1 jelek. Mereka tidak siap meladeni keluhan kedua pembalap yang beda usia dan pengalaman. Kendati, penampilan Vinales dan Rossi membaik dibadingkan 2016. Buktinya, pembalap Spanyol itu mengukir tiga kemenangan, meski sempat dua kali gagal akibat jatuh. Ia masih keluhkan soal ban, elektronik dan sasis baru yang tidak cocok.

Rossi, meski 2016 peringkat ketiga dan sekarang keempat, jumlah point sekarang lebih banyak 8 angka (111 di 2016). Ia juga hampir menyamakan dua kemenangan 2016. Ketika The Doctor meminta sasis dan baru dituruti di Assen, sukses podium pertama. Tapi, kurang masksimal di Sachsenring lantaran permukaan aspal baru. Nah, tinggal dibuktikan di ronde kesepuluh di Brno.

Lonjakan hebat justru diraih Dovizioso. Adanya larangan pemakaian sayap, tentu membuat Ducati kerja keras yang fokusnya pada dirinya. Sebab, pembmalap baru yang sangat diharapkan Jorge Lorenzo belum bisa beradaptasi cepat sama Desmosedici GP17. Baik dari gaya balap maupun menjinakkan keliaran motor.

Efeknya, berimbas pada pembalap Italia tersebut. Di luar dugaan ia berhasil mengantongi dua kemenangan di Mugello dan Barcelona. Sama dengan tahun lalu, tapi itu sampai akhir musim dan disumbangkan dua pembalap, satunya lagi Andrea Iannone.

Nah, Iannone sendiri jeblok sama Suzuki. Ini tak bisa dibilang kesalahan pada motor, toh tahun lalu di tangan Vinales sukses raih satu kemenangan. Dan bersama Alex Espargaro, Suzuki jadi tim yang diperhitungkan.

Kendalanya, lagi-lagi bukan pada GSX-RR. Tapi, gaya agresif The Maniac yang tidak pas sama motor. Trus, kebiasaan di Ducati diterapkan di Suzuki. sami mawon sama Lorenzo yang terbiasa halus memperlakukan M1, tidak bisa terpakai pada motor mereka sekarang. Rezki

 

BAGIKAN