nhk

MotoGP 2019: Fairing Aerodinamis Ducati Dirancang Computational Fluid Dynamics (CFD), Disimpan Untuk Test Sepang..!

ManiakMotor – Presentasi Ducati Team pada 18 Januari di Swiss, mereka belum mengeluarkan semua senjata. Terutama yang mudah ditiru, hehe. Seperti aerodinamis yang tertumpu pada fairing yang dikejerkan dengan teknik simulasi komputer lewat Computational Fluid Dynamics (CFD). Itu selain ujian pada wind tunnel. Sedang kenyataannya akan dicoba di test resmi di Sepang pada 1 – 3 Februari 2019.

Panjang ceritanya di crash, maka coba dipersingkat, fokus pada CFD. CFD adalah simulasi komputer yang sudah virtual reality. Simulasinya sangat kenyataan, gitu bro. “Aturan baru 2019 pada fairing adalah tantangan. Pengerjaan lewat CFD adalah solusi. Dimensi-dimensi winglet untuk 2019 dikurangi lewat regulasi. Lewat CFD membuat aeordinamis berfungsi terutama down force yang anti-wheelie,” kata Edoardo Lenoci, pakar pengembang aerodinamis Ducati yang juga pernah di F1 saat presentasi Ducati Team di Swiss.

Ducati paling berhasil dalam hal aerodinamika. Kan mereka yang memulai. Awal kemunculan winglet-nya bikin senyum lawan dan kawan 2015. Mau terbang ke mana tuh Ducati? Tapi pada akhirnya, mulai dari malu-malu sampai terang-terangan semua merek menggunakan alat yang sebenarnya pernah muncul di GP500 tersebut. Karena fungsinya justru terbalik, menekan kelintasan agar motor jangan terbang, hehe. Malah stabil dan nggak ngangkat-ngangkat.

Lenoci mulai bekerja di Ducati enam tahun lalu. Dia punya latar belakang dari F1. Katanya, di jet darat itu, sebagian besar dana ditanam mengembangkan aerodinamika, “Yang pernah dipelajari dari F1, coba ditransfer ke Ducati. Pasti punya  pendekatan yang berbeda, misalnya menggunakan alat khusus untuk mengidentifikasi cara yang tepat,” sebut Lenoci yang maksudnya CFD.

Sederhananya pengembangan aerodinamika terbagi dalam dua kategori, yakni  wind tunnel atau terowongan angin dan langsung pada sirkuit. Sekarang sudah ada simulasi komputer yang mereka sebut CFD tadi, “Kami perkenalkan CFD dengan masif. CFD berarti simulasi matematis yang terjadi di sekitar motor dalam hal aerodinamika,” beber Lenoci.

Di torowongan angin mengembangkan aerodimamika menggunakan model skala penuh. Komponennya harus aktual bersama suku cadang motor. Di terowongan angin sulit melihat distribusi tekanan dan tegangan angin pada permukaan fairing/bodi. Di terowongan angin harus melakukan pekerjaan optimasi. Ini sama pentingnya dengan mengembangkan konsep baru.

Beda dengan CFD, nggak gitu-gitu amat, “Dengan CFD, ada beberapa keuntungan, misalnya dapat memberi tahu jumlah data yang lebih lengkap. Simulasi CFD juga membantu para insinyur memahami yang terjadi pada motor dalam hal aerodinamika. Di sisi lain, tidak harus menunggu bagian part yang masih dirangcang. Pengembangan aerodinamika lebih awal dari sebelumnya.”

Bagian yang sulit, tapi nggak sulit-sulit amat dengan CFD. Yakni memetakan  agar hasilnya berkorelasi secara akurat dengan yang sebenarnya terjadi ketika di trek. Toh itu juga berlaku saat diuji di terowongan angin. Banyak persamaan matematika yang berbeda dapat dipilih untuk mensimulasikan sifat aliran udara sampai turbulensi yang acak, misalnya.

Sekali lagi, fairing dengan winglet Ducati 2019 belum ditampilkan pada presentasi baru lalu. Nanti Sepang saat test. MM

BACA JUGA

MotoGP 2019: Katanya Hanya Duel Antara Lorenzo Vs Marquez…!

Tekniks, Dari 36 Laga MotoGP 2017-2018, 34 Dimenangi Mesin V4, In-Line Hanya Dua Kali

BAGIKAN

Warning: A non-numeric value encountered in /home/maniakmo/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353