nhk

MotoGP Sachsenring 2016 Jelang: Marquez Lebih Main Otak Ketimbang Otot, Nyindir Rossi Nih?

 

 

ManiakMotor – Sukses Nicky Hayden menjadi juara dunia 2006 adalah contoh nyata betapa pentingnya konsistensi merenda poin. Dalam 17 seri balap musim itu The Kentucky Kid hanya 2 kali juara seri. Bandingkan dengan  Valentino ‘The Doctor’ Rossi yang 5 kali juara. Bedanya lagi, Hayden hanya sekali DNF sedangkan Rossi 3 kali saat itu. Saat ini Rossi baru 8 laga lalu juga sudah tiga kali, hehe.

Model perolehan poin macam itulah yang akan dijalani Marc Marquez musim ini guna pertahankan posisi sebagai pemimpin klasemen. Contoh di Assen lalu, ia rela jadi nomor dua demi poin. Bila doski mau, tinggal gas pol rem jangan blong RC213V-nya saja bisa melawan Jack Miller. “Pilihannya bermain keras punya risiko jatuh seperti main di Catalunya atau saat di Assen yang hujan,” tutur Marquez yang bukan berarti menyindir Rossi yang belakangan justru bermain ‘keras’ mengingat M1-nya ada keunggulan. 

Tahun ke-4 Marquez di kelas para dewa ngebut roda dua, gaya MM memang berubah. Ia bukan lagi pembalap grasak-grusuk yang berorientasi menang dengan cara apa pun. Jika perlu gaya pasar senggol sikit-sikit sikut dan dengkul menyerang  lawan. Itu karakter MM yang terbawa sejak Moto2 dan terlihat dalam tiga musim pertama di MotoGP. Kala itu Rossi bahkan berkomentar tak ada istilah finish kedua buat anak itu karena selalu ngotot nomor satu, meski harus menempuh risiko kecelakaan. Bahkan ia terkesan acap bermain brutal di lintasan.

Kini, permainan yang sesungguhnya bikin asyik penonton itu mulai ditinggal. Ia lebih main otak dari pada otot dan nggak ngotot di depan sejak lap awal. Malah lebih sering curi angin lawan. Bukan takut, tapi doski memang sudah lebih bijak. Kisah sukses Hayden pada 2006 dan perjalanan MM musim 2015 menjadi contoh. Tahun lalu MM retire sebanyak 6 kali dan hampir semua akibat ulah brutalnya di lintasan. Itu pun masih urutan 3 klasemen kejurdun. Jika tak banyak DNF tentu lain cerita kejurdunnya.

Dengan jujur MM mengakui perubahan itu di GP Belanda. Ia rela disalip Miller karena dapat 20 poin pun sudah ibarat juara karena saat sama Rossi tak dapat poin sedangkan Lorenzo jauh di belakang. Tanda nalarnya jalan. “Pada akhirnya dalam permanainan berseri, poin lebih dibutuhkan. Saya terus-terusan diingatkan tim untuk hal itu dan harus menurut,” katanya yang mirip analisa sebelumnya di portal ini tapi soal Rossi. Tapi pertanyaannya, adakah yang mampu mengingatkan Rossi soal seperti itu?

Menyongsong 10 seri sisa pendekatan macam itu pula yang akan dilakukan MM. Ia tak akan memaksakan kemenangan seperti tahun-tahun lalu, terlebih juga karena M1 tahun ini secara umum lebih kompetitif dibandingkan RC213V-nya. “Yang paling penting dilakukan adalah menjaga poin tetap teratas sampai akhir musim. Resiko yang tak perlu harus dihindari,” pungkasnya. 

Berikutnya tiba di Sachsenring yang dikenal sarangnya Honda. Andro

BACA JUGA

MotoGP Jerman 2016 Jelang: Ibu ‘Jantungan’ Dari Aksi Jack Miller, Disebut Pembalap ‘Idiot’

MotoGP 2016 Jelang Sachsenring: Stoner Ngaspal Lagi di Misano, Lanjut WDW

MotoGP Jerman 2016 Jelang: Rossi Bilang Sendiri Bodoh di Assen, Lupa Diri

MotoGP 2016: Tahun Depan Pemakaian Sayap Dilarang, Kacian Lorenzo Dong!

MotoGP Assen 2016 Pasca Race: Lorenzo Menyindir Rossi Soal Point

BAGIKAN