nhk

MotoPrix 2013 Region 2 (Jawa); Cilaka 12 Primadanya Terbalik

 

ManiakMotor – Pembibitan di MotoPrix (MP) region 2 (Jawa) seperti primadi salto. Lha, terbalik saja sudah nggak sehat, apalagi salto. Peserta pembibitan lebih sedikit dari seeded. Ya seedednya lebih banyak. MP Jawa yang jadi para meter balap motor, sudah krisis pemula. Namanya krisis, akan putus generasi pembibitan.

Silakan you cek di Sentul Kecil, Bogor, Jawa Barat yang berlangsung 1-2 Juni kemarin saat seri 4 MP Jawa. Peserta pemula tidak sampai separuh dari seeded yang berlaga di MP1 (underbone 125 cc) dan MP2 (110 cc). Dua kelas itu pesertanya ada 49. Sementara di MP3 (bebek pemula 125 cc) dan MP4 (pemula  110 cc) 21 peserta. Miris lagi MP5 dan MP6 yang disebut-sebut kelas pembibitan awal, hanya 11 anak.

Rudy Hadinata, bos Yamaha Yamalube FDR Trijaya, kondisi ini bukan hanya terjadi di seri IV kemarin. Tetapi sudah menyebar. “MP adalah puncaknya balap di Jawa, harusnya pemula lebih banyak dari seeded. Dari jumlah mereka, ketahuan perkembangan balap motor. Mereka yang akan menggantikan seeded saat ini,” jelas Rudy yang membeberkan beberapa aturan yang membuat primadinya jadi terbalik.

Memang bersamaan melemahnya hiruk pikuk road race belakangan. Di pengprov tertentu yang namanya kejurda sudah pada tutup buku. Contoh DKI sebagai pencetus pasar senggol pertama kali di Indonesia, tiga tahun ini tanpa kejurda karena nggak lahan. Dulu tiap minggu diadakan di seputaran Jakarta dan pusatnya di Kemayoran. Pemulanya luar biasa menyemut saat itu. Di pengprov lain, ada sih kejurda, cuma  ya seperti itu.  Ya, faktanya setiap ada MP Jawa, tetap nggak ada peserta pemulanya.

{Flash=images/IklanYamaha/yamahavixion.swf|width=500|height=160}

Menurut Eddy Horison sebagai Biro Olahraga Motor PP IMI, pemula diserahkan pada pengprov masing-masing. Tugas mereka untuk membibit dari bawah. Final region hanya terima jadi. “Itu juga alasan MP5 dan MP6 tidak dikejurnaskan, karena diserahkan ke pengrov dan kejuaraan di bawahnya perkembangannya,” jelas Eddy.  

Itu kembali dimentahkan Pak Rudy. Baginya setelah ada aturan umur dan dihaspunya kejurnas MP5 dan MP6, MP jadi  berubah sepi. Bukan hanya di MP, tetapi juga sampai ke kejurda. “Titel kejurnas kan mengangkat gengsi kelas tersebut, saat dihapus langsung tim-tim menarik diri. Peserta makin sedikit, persaingannya pun kurang rivalitas,” tambah Rudi. 

Didukung Zaki Pahlepi selaku manager Alif Akbar yang turun di MP5 dan MP6, satu-satunya pembalap DKI dari pemula. “Saya sering ikut kejurda Jabar dan OMR, jarang yang membuka kelas ini karena ketiadaan peserta. Kelas ini  adanya hanya di region. Saya khawatir tahun depan saat sebagian peserta saat ini naik MP3 dan MP4, kelas ini sudah tidak ada pengikut,” jelas Zaki yang mengusung tim  Zaki HM Tock Racing.

 Sama halnya dengan pembatasan umur, lewat 18 tahun sudah tak bisa ikut MP3 dan MP4. Akibatnya seperti cerita di atas tadi, peserta menumpuk di seeded. “Seharusnya, dibikin dulu satu jenjang sebelum benar-benar seeded. Misalnya seperti aturan 90-an dengan  seeded A dan B,” saran  Bimo Aditya, selaku manager dari tim K1 NHK Tirtonirmolo Budi Luhur.

Eddy kembali menenangkan. Katanya suasana ini hanya berlangsung sementara. Tahun depan, pemula akan mulai banyak lagi. Tetapi ia tidak memberikan hitungan dari mana asalnya pemula untuk bikin rame. Sebab berharap dari MP5 dan MP5, ya nggak mungkin dong. Kan pengisi MP3 dan MP4 adalah mereka. Lalu dari mana ya? Kan disebut tadi primadinya lagi terbalik, brosist. Adit

BERITA TERKAIT:

MotoPrix 2013 Sentul Race MP2; Dadan Mengatasi Lawannya

MotoPrix 2013 Sentul Race MP1; Zaki Juaranya

MotoPrix 2013 Sentul Seri-4; Honda Tercepat Kualifikasi MP2

MotoPrix 2013 Sentul QTT: Taroreh Pakai Data Malang

MotoPrix 2013 Region Jawa Seri IV; Memainkan Data Sentuk Kecil


BAGIKAN