nhk

MotoPrix 2015 Seri 1 Sentul Kecil: Peserta Merosot 60 Persen, Dituding Penyebanya OMR

 

 

ManiakMotor – MP1 atau Bebek 125 Tune-Up Seeded hanya 21 peserta. MP2 atau Bebek 110 Tune-Up Seeded hanya 11 pembalap. Total yang terdaftar 120 starter di seri pertama MotoPrix Jawa di Sentul Kecil  pada 28 Februari dan 1 Maret 2015. “Mengenaskan jumlah pesertanya. Ini saya sudah perkirakan sejak tahun lalu,” jelas Judiarto, Ketua IMI DKI yang pengprovnya kebagian seri pertama region 2 ini.

Dibanding tahun lalu memang merosot lebih dari separuhnya. MP1 dan MP2 yang biasanya sampai 40 peserta setiap kelas, kini turun 60 persen.  “Ini juga sudah terbaca di Jawa Barat. Biasanya ramai, belakangan menurun. Apalagi kelas seeded, sepi,” jelas Rio Teguh, Ketua IMI Jabar yang wilayahnya masih dikenal ramai soal road race, tapi sudah bicara begitu.

Yang cerita di atas pun memberi argumentasi soal merosotnya peserta. Kalau Rio bilang banyak faktor. Pertama maniakmotor.com lebih banyak nulis drag bike, hehe. Itu becanda bro. Maksud dia, kelas wajib di MotoPrix seperti MP1, MP2, MP3, MP4 dan MP-MP lainnya mungkin dianggap membebani di saat ekonomi lagi lesu. Beban beli motor dan suku cadang.

Kedua larinya sponsor rutin yang mengalihkan sasaran promosi. “Jadi banyak faktor yang bikin road race animonya menurun,” tambah Rio. “Kalau saya melihatnya dari maraknya one make race (OMR). OMR menarik banyak sponsor besar, sehingga menganggu tim-tim. Turunnya animo penonton  di setiap kota pun juga akibat dari OMR. Bayangkan penonton dibikin gratis, jadi kalau ada MP yang harus bayar tiket, penonton pasti keberatan, karena sebelumnya gratis,” timpal Judiarto.       

Tentu kalau cerita harus ada solusi. Peraturan MP dari segi lomba dan regulasi teknik harus dipermak total. Misalnya struktur lomba diperjelas kembali. Bahwa namanya kejurnas jadi lambang tertinggi balap motor. Harus dibela dengan syarat-syarat mengikat. Misalnya, peserta wajib OMR wajib ikut di kejurnas. Itu kan misalnya. Bagaimana pun, OMR kasta paling di bawah di struktur lomba IMI.

Lalu kelas. Harus diingat pasar bebek saat ini bukan penguasa pasar lagi. Keterikatan khalayak sudah berkurang dibanding 10 tahun lalu. Ya itu tugas PP IMI-lah sebagai regulator. “Harus dicari tipe motor apa yang sedang digemari sekarang dan dibikin kelasnya. Memang awalnya tidak akan ramai. Soal matik sudah terbukti kurang, yang ada sekarang sport,” saran Hendriansyah, pembalap senior tiga generasi.

Regulasi teknik di saat dolar ngacang di atas Rp 12.000 jangan seperti MP1 dan MP2 saat ini. Kelas ini sudah sama dengan IP yang tingkatan professional tim dan pembalap berbeda. Apalagi kontrolnya berkurang dan ditambah lagi teknologi injeksi.  “Saya periset injeksi di pabrikan Honda. Selain butuh sdm yang mahir, juga dana tak terkira. Mahal deh. Sarannya, di MP misalnya sekadar ganti piggy back,” jelas Wawan Hermawan dari Sentul Kecil, dia bagian dari peserta MP1 dan MP2 region  Jawa yang pernah jadi peserta IP dan IRS.

Bila aturan korek-korek mesin nggak dibuka habis, otomatis  membangun dan perawatannya murah. Kan putaran mesin dibatasi, tenaga dihasilkan nggak besar. “Kalau ini setuju.  Sebab berkurangnya peserta kalau saya lihat semata ekonomi,” saran Johanes dari DMI yang menjual helm NHK yang mengaku tahun ini mengurangi separuh dana sponsor ke-tim karena semaraknya road race yang merosot. Miolo

BACA JUGA

MotoPrix 2015 Jelang Sentul Kecil; Wawan Is Back, Karbu-Injeksi Honda Blade

MotoPrix 2015 Jelang Sentul Kecil: Susunan NHK Racing Team Region 2

MotoPrix 2015 Sentul Kecil (Jelang): Satu-Satunya Event Road Race Bertemunya Yamaha Dan Honda

MotoPrix 2015; Regulasi ‘Lebai’, Yang Protes Nggak Paham Aturan, Katanya

MotoPrix 2015; Pembalap IP 2013-2014 Dilarang Keras Ikutan, Nah Lo! Regulasi Lebay

BAGIKAN