nhk

Pemula MotoPrix, Milik ABG Dari Moto-X

 


ManiakMotor – Disiplin olahraganya, terbina penguasaan motornya, dan sejak dini sudah kenal motor, hanya ada di motocross. Paling tidak, itu yang saat ini ada di Indonesia. Jangan heran dan mencari-cari, pemula MotoPrix Region II atau Jawa dikuasai lulusan motocross. Ada yang baru tahun ini dari special engine 65, langsung bicara di pemula road race. Termasuk di seri 3 MotoPrix Region II di Sentul Kecil, kemarin. Hu’um, Minggu 6 Mei 2012.

Jangan bilang biasa. Motocross anak-anak, baru ada lima tahun belakangan. Sekarang road race yang dapat bibitnya. Iya to, mereka masih di MP3, MP4, MP5 dan MP6. “Dasar pengayaan gerak mereka bagus. Nalurinya juga ada, fisik mereka siap,” sebut Hendriansyah yang datang ke Sentul Kecil mengawal muridnya dan empat di antaranya lulusan SE50 dan SE65. Ya dari motocross, mana ada motor road race punya kode begitu.

Rheza Danica, Reynaldi Pradhana, Maulana Noor, Syamsul Arifin, Asep Maulana, Willy Ahadasi dan sebagainya, adalah mantan pengebut SE50 dan 65. Kecuali Rere atau Reynaldi yang lumayan berumur. Selebihnya, di bawah 13 tahun, bo. Tetapi sudah mengacak-acak yang duluan tenar di kelas pemula itu. “Saya baru tahun ini ikut road race. Berhenti dari motocross, karena kegemukan,” cerita Syamsul Arifin, wong Jogja yang dilatih Hendriansyah dan juara MP5 kemarin.

Mau tau? Gak, udah tau kok! Jorge Lorenzo adalah juara SE50 dan SE65 Eropa. Valentino Rossi sampai tua, masih main motocross demi menjaga refleknya. Ratthapark Wilairot, pemain Moto2 from Thailand, sejak 5 tahun diajari  SE50. Adiknya, Ratthapong Wilairot yang tahun ini ikut Supersport 600 cc di Asia Road Racing Championship, sama juga.

“Walau di Thailand tidak ada lomba SE50, saya membelikan untuk anak-anak. Hanya dengan motor ini pendidikan dini bisa dimulai,” cerita Christmas Wilairot. Nah kalau mengaku tahu jagat balap aspal, pasti kenal orang itu. Ya, iyalah, kan papanya Wilairot bersaudara. Hei, dia jagonya sport tune-up Honda NSR150 di era FIM Asia Road Racing awal 90-an. Dia sebagai proyek pertama HRC Jepang datang ke Thailand.

Di motocross, umur 6 tahun disuruh olahraga fisik. Push-up, seat-up, dan koordinasi telah mereka dapat. Bahkan, lari 30 menit dengan kecepatan 8 km/jam mereka sanggup. Resep ini yang membuat pembalap road race remaja berbondong-bondong meniru olahraga motocross. Dan, hanya segelintir yang sanggup bertahan. Salah duanya, Dimas Ekky Pratama dan M Fadly. Lihat kemampuan keduanya geber supersports 600 cc, mantap kan.  

Itu baru standar fisik. Lalu ditambah dalam seminggu lima kali menggelinding di tanah keriting, trek berlubang, gundukan dan loncatan. Bayangkan saja, soal cerita ketahanan. “Motor seperti menempel pada tubuh mereka, sebab dari anak-anak  kenal motor. Berhasil tidaknya, tergantung mempertahankan kebugaran dari motocross,” amati Felix Judyanto dari Suzuki Chia Felix yang cukup jadi pengamat di MP Sentul Kecil ini. Nasib dan dana juga, Lix…

Belum cerita pembinaan. Anak-anak motocross punya academy yang menyebar di Jawa. Jadi, sejak kecil mengenal pendidikan balap yang terstruktur.  Paham diajari ini dan itu. Paham soal disiplin. Paham begitu ketatnya persaingan. Paham juga menguasai tekanan. adit

BERITA TERKAIT:
Klasemen Sementara MotoPrix Semua Region
Stop Press! Insiden MotoPrix Sentul Kecil…!,  
Juara MotoPrix Seri 3, Pembalap Jawa Timur
Race-1 MP1 Sentul Kecil, Direbut Sulung Giwa
Jupiter Z Topan Juara IP
Mata Owi Nurhuda Resep Kencang Honda
Trik Menaklukan Sentul Kecil
Pembalap Bebek Jago Moto3
BAGIKAN