nhk

PON XIX Jabar 2016 : Banjir Bonus, Dari Uang Sampai Dapat Rumah!

Road Race, PON XIX, Jabar, Tasikmalaya, Gilang

ManiakMotor – Luar biasa nikmat! Bukan makan enak, tapi lebih dari itu. Para peraih medali emas di cabang balap motor PON XIX di sirkuit Bukit Peusar, Tasikmalaya, Jabar (23-25/9) kebanjiran bonus. Mulai dari berupa uang yang jumlahnya bervariasi sampai mendapatkan rumah. Seperti Rafid Topan Sucipto dari DKI bakal menerima Rp1,3 miliar. Malah bisa finish saja sudah mengantongi uang cukup menggiurkan.

Seperti dijanjikan pada pebalap Papua.  ”Kalo bisa finish saja bonus 100 juta. Emas 600 juta, perak 400 juta, perunggu 200 juta, sebut Imanuel Pettipi, manajer tim Papua.  Ini, katanya untuk memotivasi pebalap karena Papua akan jadi tuan rumah PON 2020. Ditegaskan lagi oleh Jerry Sulia,  dari Papua, bonus lain yang dimaksud adalah menjadi pegawai negeri.

Road Race, PON XIX, jabar, Tasik, Jogya
125 perorangan

Kucuran bonus juga mengalir pada Andi ‘Gilang’ Farid Azdihar, penyumbang emas bagi Jabar di kategori 125 cc perorangan. ”Bonusnya Rp300 juta plus rumah dan bonus-bonus lain,”ujar salah satu offical Jabar.

Lalu, bagaimana dengan Yogyakarta yang berhasil dapatkan emas di 125 cc beregu. ”Dengan dana latihan yang minim (15 juta), kami semua berusaha berjuang seoptimal mungkin demi sebuah impian yakni sirkuit permanen. Emas ini jadi bukti, semoga rencana dibangun sirkuit permanen bisa terealisasi,”yakin Irwan Adriansyah.

Tapi dibalik itu, ada hal menarik lain, sayang kalo dilupakan. “PON punya daya magis yang

Tim yang sukses maeraih medali emas
Tim yang sukses maeraih medali emas

beda. Ada gengsi antar daerah yang tak terbantahkan. Apalagi bagi Yogyakarta yang punya tradisi kuat di balap motor. Itu makanya, meski baru pulang dari Traning Camp 2 (Italia) dan bersiap menuju ARRC seri India, aku tetap semangat demi PON,”ujar Galang Hendra Pratama, rider penyumbang medali emas bagi Jogya.

Suasana kedaerahan pun sangat terasa di paddock area. Uniknya, dua daerah peraih medali emas di kategori beregu punya terapi yang khas. “Lagu Yogyakrta oleh Kla Project jadi sugesti bagi kami. Bahwa kami ingin pulang ke Yogyakarta dengan medali emas,”kata Dedy Permadi, mentor tim Yogyakarta.

“Lagu Sajojo dengan tarian khas Papua jadi terapi manjur bagi kami. Sesaat sebelum lomba sejenak coba lebih rileks, lepaskan beban,”kompak R. Fadhil dan Richard Taroreh, penoreh medali emas bagi Papua Barat. Jogja istimewa, Papua Barat punya gaya! Ardel

BAGIKAN