nhk

Purwakarta Enduro Challenge, Aep Dadang Bintangnya

Maniak Motor– Di dunia garuk tanah, nama Aep Dadang, masih menjadi magnet. Apalagi di Jawa Barat, ribak sude. Walah itu bahasa Batak brosist. Yang benar, kasep surasep euy dari sadayana   atau penonton saat Aep usai menerima piala juara kelas FFA (Free For All) Impor di ajang Purwakarta Enduro Challenge 2012. Kasep orangnya, kasep pula prestasinua, Aep mantan juara nasional motokros 4 kali asal Bandung. Ia tak henti-hentinya dimintai foto oleh penonton maupun peserta yang mengikuti trail enduro di Desa Citapen, Kec. Sukatani, Purwakarta, Jawa Barat, Minggu 30 Desember 2012.

Paddock Aep yang kibarkan bendera tim Husqyvarna Bonaharto menjadi pusat perhatian para penonton. Walau sadayana penonton yan kasep dan geulis ditarif Rp 10 ribu per orang untuk masuk ke area sirkuit. “Saya hanya mengisi waktu luang, lumayan untuk melatih fisik,” kata Aep di paddock-nya yang tak henti-henti memutar lagu dangdut. Wah penggemar dangdut juga rupanya, sama dong hehehe. Udah kenal Mela Berbie belum? Pedangdut koplo….

Ternyata, saat persiapan menghadapi kejuaraan Supercross nasional lalu, Aep berlatih menggunakan Husqyvarna TE250R. “Sasisnya sama dengan versi Special Engine (SE), bedanya power mesin dan suspensi yang lebih mementingkan ketahanan.”

Saat beraksi di sirkuit yang hari Sabtu (29/12) dipakai Grasstrack itu tak hanya penonton yang memperhatikan aksi Aep. Peserta pun mencermati tekniknya memacu Husqyvarna TE250. “Motornya hampir sama dengan yang saya pakai, tapi tekniknya jauh,” komentar Iksan Ansyori Tado yang sudah sering ikut event serupa.

Meskipun tidak ada table top di lintasan ini, tapi kepiawaian Aep mampu membuat si Husqvarna terbang. Katanya sih, sebetulnya motocross ataupun enduro sama saja. Pembalap harus pandai memilih jalur saat melewati rintangan. “Jujur saja saya tidak terbiasa melewati rintangan berupa batang pohon kelapa, tapi jika dibandingkan handicap tersebut hampir sama dengan superbowl. Kembali pada  makna ketahanan tadi, pembalap harus bisa mengontrol ritme bermain. Ada saatnya kencang, ada saatnya santai karena yang dilawan bukan hanya peserta lain, tapi daya tahan tubuh kita sendiri,” papar Aep macam guru ke muridnya.

Meskipun sama-sama main tanah dan lumpur, motocross dan trail enduro memang berbeda. Motor  enduro bukanlah klasifikasi SE alias special engine. Rintangan atau handicap-nya pun berbeda. Yakub Maulana, selaku penggagas acara ini bertutur, “Yang paling mendasar tentu durasi balapan. Sesuai namanya, enduro berarti endurance alias ketahanan, baik fisik pembalapnya maupun ‘fisik’ motor,” tutur pria ngetop si sapa Jack ini sembari senyam-senyum lantaran acara yang digelar di pinggir jalan raya Purwakarta-Bandung itu diikuti 110 starter untuk trail enduro dan 45 starter di grasstrack.

Banyak ilmu yang didapat pembalap lain. Hilman B-Two,  contohnya, teknik bermain motokros seperti yang dipakai Aep dia aplikasikan. “Badan jangan terlalu banyak diam, duduk-berdiri, maju-mundur harus terus dilakukan selama lomba. Justru badan saya terasa tidak terlalu letih daripada kebanyakan duduk di sadel,” ujar pembalap yang bergabung di tim Bandung Barat X-Treme ini.

Ya, itu karena ritme gerak yang diterima tubuh terutama persendian, sehingga peredaran darah terus mengalir ke semua organ tubuh. “Yang bikin badan terasa letih karena aliran darah yang tidak mengalir,” pungkas Aep, kali ini macam dokter ke pasiennya.

Namanya juga olahraga bermotor. Adit

BERITA TERKAIT:

Enduro Cross Solo, Mainan Petualangan Bermotor

Rally Dakar 2013, Tanpa Biker Jagoan

GT Radial Trail Enduro Cileungsi, Komodo Punya..!

 

 

 

 

BAGIKAN