nhk

RIP Benny Jati Utomo, Tunner Papan Atas Indonesia, Generasi Awal Pe-Mapping

ManiakMotor – Sebelumnya portal ini bersama staf turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Benny Djati Utomo. Semoga keluarga dan handai taulan tabah dan iklas. Benny meninggal pada umur 47 tahun di RS Perta Medika Sentul, Bogor, Jabar pada Sabtu 2 Juni 2018.

Benny 23 tahun lalu mengawali karirnya sebagai mekanik di Suzuki Indonesia. Saat itu, masih sangat jarang atau bahkan belum ada, yang bicara teori motor bakar racing yang diiringi dengan pegang-pegang komputer. Makanya sempat disebut, mekanik otak komputer generasi pertama.

Dua minggu sebeluim dipanggil Tuhan, masih jadi nara sumber PP IMI bersama Bambang Gunardi, Irwan Ardiansyah, dan Faryd Sungkar

“Dia nggak sakit apa-apa. Hanya hari Sabtu (2/6-2018) ikut enduro di Hambalang. Siangnya balik ke rumahnya di Sentul dan langsung dapat serangan jantung,” sebut Abdul yang mengurus 96 Motor atau yang dulu dikenal dengan Star Motor milik almarhum di kawasan Sentul.

Semua mengenang soal Benny yang memperkenalkan pentingnya melek teknologi di balap motor. Yang pada akhirnya sekarang balap motor tergantung yang namanya mapping dan semuanya ada pada komputer, “Nyeting motor itu, kuncinya hanya pada presisi. Salah satu yang membuatnya akurat adalah komputer,” sebut Benny suatu ketika saat zaman ECU belum di lombakan di balap motor Indonesia, masih zaman CDI.

Pernah dari Suzuki, ke Yamaha dan Honda, kecuali Kawasaki dia belum pernah, tapi awal karirnya pernah bereksperimen pada Ninja 2T yang aneh-aneh. Jadi almarhum ini, “Milik semua balap motor Indonesia. Saya sangat kehilangan,” tutur Eddy Horison, Irwan Ardiansyah, Farid Sungkar dan sebagainya mengenang beliau sebagai tunner yang memperkenalkan teknologi yang up to date.

Sudah banyak pembalap papan atas sekarang pernah lewat polesan tangannya. Demikian juga juara nasional, sudah nggak bisa dihitung yang pernah dia antarkan, “Memang dia spesial untuk urusan mekanik di Indonesia. Saat ini saja, almarhum sanggup melawan CBR250RR racikan Jepang di IRS,” kenang Eddy Saputra dari Ohlins Indonesia.

Selamat jalan kawan, kami yang ditinggalkan semoga tetap bisa berjuang untuk balap motor Indonesia. Seperti cita-cita Benny Djati Utomo yang dikenal kritis pada aturan main balap motor. Miolo

BAGIKAN