nhk

Teknologi MotoGP : ECU Dikawinkan GPS

ManiakMotor – Electronic Control Unit (ECU)  makin  canggih saja. Lama-lama itu motor MotoGP bisa diremote dari paddock. Pembalapnya tinggal hiasan duduk di jok motor. Mana bisa…

Sebelumnya, mari bicara ECU saban hari di depan mata kita. Misalnya ECU Yamaha Mio Soul GT injection. Peranti komputer itu mengatur kebutuhan bahan bakar dan semburan udara ke dalam ruang bakar sesuai kebutuhan dan kondisi mesin lewat sensor-sensor.

Hitungannya njelimet karena memasukkan data itu berdasarkan riset dan pengembangan yang  puaaaanjaaaang. Semua data lantas dibuat menjadi “grafik” dan dimasukkan dalam chip pada ECU. Kira-kira begitu proses pembuatan grafik agar  mesin akan selalu optimal dengan tenaga maksimal, namun irit bahan bakar.

Dalam ECU bawaan pabrik, grafiknya paten. Maksudnya, grafik data tidak bisa diubah-ubah. Namun karena  pada beberapa kondisi tertentu grafik itu kurang pas, maka  dikembangkan ECU after market. Yang sudah tersedia di pasar adalah ECU yang telah dirancang dengan beberapa  pilihan mode. Tinggal klik mode apa yang diinginkan. Ngebut, biasa, atau irit.

Tapi di kompetisi MotoGP, kecanggihan ECU makin di luar akal. Bayangkan. Grafik setelan ECU “dikunci” dengan GPS yang diproyeksikan dengan sirkuit yang akan dipakai! Misalnya di sirkuit Jerez. Di trek lurus, setting mesin akan berubah otomatis ketika motor masuk tikungan pertama. Lalu akan berubah lagi di trek lurus pendek yang dikombinasi tikungan kanan-kiri. Lalu di high speed corner, secara otomatis, traction control mungkin akan dimatikan oleh komputer. Dan seterusnya, dan seterusnya sesuai yang diinginkan pembalap dan para ahli tadi.

Nah, data logging semacam itu hanya bisa didapat oleh tim pabrikan yang bertahun-tahun mengumpulkan data. Tentu, hanya tim-tim besar saja yang mampu melakukannya. Selain perlu biaya yang sangat besar, pengembangan sistem itu juga perlu riset yang panjang.   

Bicara waktu di MotoGP adalah sangat berharga. Bahkan mereka bicara satuan waktu dalam seperseribu detik. Misalnya kalah  0,003 detik saja, ya kalah. Makanya, para teknisi dan ahli telematika berkolaborasi dengan pembalap, “memasukkan” data (data logging)) dengan segenap informasi yang mereka miliki. Ya kemampuan pembalapnya, ya record soal cuaca, tikungan dan lain-lain. Dan gilanya, ya itu tadi, setiap jengkal sirkuit akan dipetakan lengkap dengan settingan motor yang diharapkan pada titik tikungan itu.

Jadi mereka sudah tidak lagi bicara ECU dengan beberapa pilihan menu gaya nyetir motor. Tetapi mereka sudah bicara lebih detail dengan parameter yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan parameter demi memeproleh settingan motor yang optimal pada setiap sudut sirkuit selama pembalapnya berpacu.

Istimewanya lagi, melesetnya “pembacaan” ECU oleh GPS, kesalahannya sangat rendah lantaran GPS yang dikawinkan dengan ECU akan dilakulasi ulang setiap 0,04 detik sepanjang peranti itu dihidupkan dan selama motor itu melaju. Kita semua tahu, GPS akan dipantau dari satelit yang memang tidak mengenal hambatan selama balap dilakukan di sirkuit terbuka yang tertutup hanya langit.

BERITA TERKAIT:
Catatan MotoGP, Harga Diri Rossi Dicolek..!
Mentri Dan Walikota Dukung MotoGP
MotoGP 1000cc Tetap Mahal
Titanium Bikin Mahal MotoGP

 

     

 

 

 

BAGIKAN