Regulasi Kejurnas Oneprix 2024 di 14.500 RPM, GDT Siap-Siap Ubah Peak Power! Ngomong Karakter Sirkuit Jawa, Porting, dan CFM

Maniakmotor – Selama ini mekanik balap road race dan drag bike pasti sibuk korak-korek porting dan porting. Sampai-sampai butuh flow bench (FB) canggih untukmengukur debit udara yang sanggup dimasukkan ke ruang bakar yang istilahnya CFM (Cubic Feet per Menit) bestie.

Itu harus dipakai terus, tapi kali ini bisa-bisa angka CFM itu mau gak mau ya berkurang. Sampeyan tahu sendiri, limitter RPM di angka 14.500 untuk Kejurnas Oneprix 2024, tentu saja mekanik-mekanik sudah siap-siap untuk mengubah lubang-lubang porting itu. Seperti halnya mekanik GDT Racing, Widya Krida Laksana yang akrab dipanggil mas Gendut.

Ubah diameter hingga memperpendek lubang tadi penting untuk angka Peak power ini, supaye mendapatkan tenaga maksimal mesin pada RPM yang diinginkan. Tentu saja angka Peak power ini tidak bisa sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Ini pasti berhubungan dengan gas speed yang satuannya CFM itu mas, dan tentu saja ubahan-u bahannya 1 paket. Mulai dari Velocity Stack, Intake Runner, Porting, hingga muffler nanti,” ujar Gendut.

Dengan berubahnya angka Peak power yang harus lebih kecil ini, tentu lobang-lobang itu harus dibuat lebih kecil atau pendek. Bro yang akrab korek mesin harian pasti juga paham lah untuk hal ini.

“Geser Peak power ini bisa berbagai macam ubahannya. Kalau limitter RPM di angka 14.500 biasanya kita ubah angka Peak Power 2.000 rpm di bawah limitternya. Jadi mungkin untuk tahun ini bisa sampai di angka 12.500 sampai 13.000,” sambung Gendut.

Tapi tentu saja praktik ubahannya Gendut sendiri masih belum tahu. Kan regulasi itu baru ditetapkan dua hari lalu pada tanggal 15 Januari 2024.

“Masih perkiraan ya, kemungkinan besar ubahan pertama ada pada Intake runner. Nanti pasti velocity juga ikut berubah,” ujarnya.

“Biasanya Intake runner bakal kami buat lebih pendek. Otomatis posisi Injektor ke ruang bakar juga lebih dekat, lalu untuk velocity otomatis juga butuh yang lebih pendek. Fungsinya agar asupan bahan udara bisa lebih cepat tersalurkan,” sambung Gendut.

Sampainya udara dan bahan bakar di ruang mesin yang lebih cepat, juga bisa disambut dengan porting kecil, sampai dengan inlet mufflernya.

Itu pasti Gendut langsung memesan ke Creampie Jogja, bengkel knalpot rekanan miliknya yang selalu tertempel pada motor-motor garapannya.

Knalpot Creampie di motor GDT Racing

“Pasti inlet jadi lebih kecil, dan ada kemungkinan kita buat Silincer yang lebih pendek pula. Jadi tenaga juga lebih bisa muncul di putaran yang lebih kecil, walau bedanya paling sedikit,” ujarnya lagi.

Ngomongin regulasi ini juga cocok kalau kita bicarakan dengan sirkuit yang mayoritas ada di Jawa. Dan menurut Gendut, harusnya risetannya ini tak terlepas dari hal tersebut.

“Seperti angka CFM biasanya kita di angka 92-93. Jadi harusnya ada di angka yang mendekati itu, sekitar 80 ke atas. Tapi sebisa mungkin itu tetap kami maksimalkan, dengan angka Horse Power yang harusnya bisa tetap sama atau mendekati,” pungkasnya.

Ngomongin CFM di angka segitu, ya sudah kelihatan kehebatan Gendut sebagai Tuner. Jangan kira untuk mendapatkan angka CFM di atas 90an itu gampang bro, butuh riset yang dalam untuk mendapatkan hasil itu.

Maklum, CFM itu juga bro bisa jadikan patokan angka horse power. Walau tentu CFM hanya salah satu mengukur keberhasilan mengorek mesin. Masih ada antek-antek yang lain ikut menaikkan dk. Contoh kecil saja, soal pengerjaan dan hitungan yang rapi dan presisi.

Jangan berpatokan sama rumus CFM=1.67xHP. Karena dengan teori itu gak bakal ketemu angka HP dan CFM nyatanya. Ya tetap sesuai, yang dimaksud di atas sebenarnya adalah nilai rata-rata.  Maksud rumus itu, lu cari sendiri yang paling bagus cuma rumusnya ini loh. Sebab klep membuka dari rendah sampai lift maksimal, maka CFM bergerak dari rendah sampai tinggi pula. Geetu lo Masbro..

Nah, ukur CFM yang paling tepat tentu menggunakan alat FB yang bukan facebook mengukur debit udara yang melewati porting dan klep dengan manipulasi kevakukan silinder pakai pompa isap.

“Itu kami pernah dipinjami alatnya oleh YRI, tapi dengan riset kali makanya saya bilang harusnya hampir sama,” tutur Gendut.

Soalnya cara mengukur alat ini adalah lewat klep yang dibuka dikit-dikit dan diukur alirannya. Di sini tidak  ada urusannya sama kerja mesin. Ini urusan komponen yang sampeyan gunakan dan cara berpikir logika atau praktek.

Istilah kate, riset yang butuh dana gede, coy. Pastinya itu juga sama untuk Gendut yang mengkomando GDT Racing, mari kita tunggu seberapa ngacir motor-motornya di tahun 2024.

RAIDER