Sensor Tekanan Angin Ban Disamakan, Fitnah Ducati Pakai Tekanan Angin Ban Ghoib di 2022 Terhapuskan?

    Maniakmotor – Kini sensor tekanan angin ban disamakan untuk kelas MotoGP yang dikenal dengan nama LDL. Dengan demikian, penerapan batasan ukuran tekanan angin ban akan lebih jelas.

    Maksudnya, beda sama tahun 2022 ketika masing-masing tim punya sensor tekanan angin bannya sendiri. Bahkan Ducati dengan Bagnaia yang juara di Jerez sempat difitnah pakai tekanan angin ban ghoib. 

    Tentu dengan kebijakan ini, bos balap Ducati Gigi Dall’Igna ikutan senang. Karena menurut doski perbedaan tekanan ban akibat suhu di lintasan akan semakin kentara. Kalau emang salah ya monggo, silahkan diskualifikasi.

    “Setuju-setuju aja lah. Karena tidak mudah menemukan solusi sempurna untuk masalah ini. Tekanan ban belakang tidak menjadi masalah, semua tim bisa tetap berada di atas batas yang diizinkan. Tapi dengan ban depan ada banyak ketidakpastian,” katanya. `

    “Karena saat berkendara di slipstream, suhu dan tekanan ban depan berubah secara signifikan. Saat Anda mengejar seseorang, memang ada perbedaan besar. Saat Anda berkendara di trek sendirian, suhu dan tekanan udara di depan benar-benar berbeda,” sambungnya menjelaskan.

    Makanya kan Francesco Bagnaia yang memimpin balapan di depan Fabio Quartararo dengan jarak 10-30 meter di depan Fabio Quartararo terkena penurunan tekanan angin ban.

    Kalau inget, Bagnaia yang akrab dipanggil Pecco itu emang memimpin balapan dari awal sampai akhir. Dengan prinsip yang ada, enggak kaget kalau ban depan doski terkena penurunan tekanan angin ban.

    Yang pasti untuk Gigi Dall’Igna, peraturan baru di tahun 2023 ini akan lebih meminimalisir fitnah atau sudzon perbedaan tekanan angin ban/,

    “Dulu, semua pabrik dan tim menggunakan sensor tekanan ban yang berbeda, jadi hasil yang berbeda dapat diperoleh saat mengukur tekanan ban di Ducati dan, misalnya, di KTM karena melibatkan sensor yang berbeda. Aturan baru disusun dengan sangat baik. Hasilnya, sekarang kita dapat mengetahui apakah situasi tekanan ban di depan masuk akal dan apakah batasannya dipatuhi,” katanya.

    “Di sisi lain, kami harus membatalkan putaran tertentu dalam kualifikasi atau mendiskualifikasi beberapa pembalap dalam balapan jika pembalap tidak bertahan di bawah batas. Tapi kalau tekanan ban terlalu tinggi, itu bukan kesalahan pengemudi, itu karena mereka berada di slipstream. Jika mereka mengemudi sendiri, tekanan ban tidak akan melebihi batas,” pungkasnya. 

    Raider

    BACA JUGA

    Peningkatan Kualitas Kompetisi dan Geliat Ekonomi, serta Penggunaan Energi Ramah Lingkungan dalam OnePrix 2023 Putaran 1